Beda Harakat, Beda Pula Makna Niat

Sobih AW Adnan    •    12 Juni 2016 03:30 WIB
ramadan 2016
Beda Harakat, Beda Pula Makna Niat
Ilustrasi/bd

Metrotvnews.com, Jakarta: Bacaan niat memegang peranan penting hampir di seluruh ketentuan amal dan ibadah umat Islam. Melalui hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Umar ibn Khattab Radiallahu Anhu pernah mendengar Rasululllah Muhammad SAW bersabda, "Segala amal itu tergantung pada niat. Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya."

Pun dalam puasa Ramadan. Bagi golongan bermazhab Syafii, niat dimasukkan ke dalam kategori rukun. Sementara di kalangan mazhab lainnya, niat ditempatkan menjadi syarat sah puasa. Meski pada dasarnya tolok ukur niat adalah kemantapan tekad untuk menjalankan suatu ibadah, namun pelafalannya (talaffudz) menjadi nilai tambah sekaligus berfungsi untuk meneguhkan hati sebelum melaksanakan perintah maupun anjuran dari Allah SWT.

Terkait redaksi niat menjalankan ibadah puasa, seringkali didengar perbedaan pendapat perihal pembacaan lafaz Ramadlan. Ada yang membaca dengan mengkasrahkan 'nun' menjadi Ramadlani, ada pula yang memfatahkannya seperti dalam kalimat lengkap berikut:

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa-i fardhi syahri Ramadlaan(a) haadzihi as-sanati lillaahi ta’aalaa.”

Sebagian besar ulama lebih menekankan dibaca dengan mengkasrahkan 'nun' menjadi Ramadlani. Hal itu merujuk kajian nahwu alias bagian dasar dari ilmu tata bahasa Arab yang menyebutkan bahwa lafaz Ramadlani dalam kalimat tersebut sedang disandarkan (idhafah) kepada lafaz hadzihi as-sanati, bukan sebagai bentuk awal sebagai isim ghairu munsharif (kata benda yang tidak menerima tanwin) yang kecenderungannya dibaca fatah saat dijarkan.

"Tandailah jar isim ghairu munsharif dengan fatah ketika tidak diidhafahkan (disandarkan dengan kata sesudahnya) atau tidak menempel setelah al," tulis Ibnu Malik dalam Al-Khulasah Alfiyyah.

Maka sempurnalah makna dari pengucapan niat menjadi "saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardu di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah SWT.”

Sementara jika lafaz tersebut dipaksakan dibaca fatah (Ramadlana) atau tidak sedang dimudhofkan kepada isim isyarah (lafaz hadzihi) maka maknanya akan menjadi rancu. Karena konsekuensinya adalah kalimat sesudahnya harus dibaca hadzihi as-sanata (bukan ti) sebab telah bergeser posisi menjadi zharaf (keterangan waktu). Jika sudah seperti itu, maka maknanya berubah, bukan "saya berniat puasa pada tahun ini," akan tetapi cenderung "saya berniat tahun ini," karena posisi zharaf akan mendorong untuk menggantungkan (taalluq) kepada kata kerjanya (fi'il), yakni lafaz nawaitu, sekaligus ia berkedudukan sebagai maf'ul ma'ah (tambahan).

Meskipun begitu, keliru dalam membacakan lafaz niat tidak memberikan pengaruh pada sah atau tidaknya puasa. Niat lebih berurusan dengan ketulusan hati, juga kemantapan tekad memenuhi segala bentuk ibadah yang Allah SWT perintahkan.


Sumber: Al-Khulasah Alfiyyah


(SBH)