Tafsir Al Mishbah: Bahasa Alquran dan Amanat Menjaga Kebaikan Hati

Sobih AW Adnan    •    09 Juni 2016 14:20 WIB
ramadan 2016
Tafsir Al Mishbah: Bahasa Alquran dan Amanat Menjaga Kebaikan Hati
Ilustrasi/freepik

Metrotvnews.com, Jakarta: Jibril Alaihi as-Salam merupakan salah satu dari 10 nama malaikat yang mesti diketahui dan diyakini keberadaannya oleh umat Islam. Ia bertugas sebagai penyampai wahyu dari Allah SWT kepada para nabi dan rasul. Termasuk kepada baginda Muhammad SAW, selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari Jibril meneruskan pesan dan seruan Tuhan yang kemudian mewujud sebagai kitab suci Alquran.

Menurut ulama dan pakar tafsir KH Quraish Shihab, dalam surat Asy-Syuara ayat 193 disebutkan bahwa Jibril memiliki gelar Ruh al-Amin. Ruh, kata Quraish, adalah yang menjadikan sesuatu tampak hidup. 

"Tetapi hidup saja belum tentu baik. Yang menjadikan hidup ini sejahtera, damai, bahagia adalah amanat. Alquran inilah yang menjadikan jiwa manusia hidup. Jiwa yang dipenuhi rasa aman dan tenang. Oleh karena itu yang menyampaikannya dinamai Ruh al-Amin. Amin itu terpercaya, tak mungkin salah," kata Quraish Shihab dalam tayangan Tafsir Al Mishbah di Metro TV, Kamis (9/6/2016).

Pada ayat selanjutnya, yakni As-Syuara 194 tertulis bahwa Alquran turun "ke dalam hatimu (Muhammad).." Menurut Quraish, hati bisa diibaratkan wadah. Maka ia berpotensi memiliki isi berupa hal-hal yang baik maupun yang buruk.

"Maka Alquran dengan keindahan bahasanya, turun ke dalam hati Muhammad. Hati yang suci dan lapang. Sehingga apa yang diucapkan dan dilakukan Nabi adalah kehidupan yang sebenarnya, yang aman, damai dan sejahtera," kata dia.

Sementara pada penggalan ayat "agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan," kata Kiai Quraish, kalimat 'menjadi salah seorang' berhubungan erat dengan ayat selanjutnya, yakni penjelasan tentang dipilihnya bahasa Arab sebagai satu bahasa pengantar dalam memahami pesan-pesan Tuhan. 

"Bahasa Arab dipilih karena jelas dan kaya. Ia memiliki sebanyak 124 ribu kosa kata," kata dia.

Dari proses pewahyuan Alquran itu sangat mungkin untuk dipahami bahwa bahasa sebuah pesan akan menunjukkan karakter si penyampai dan penerima pesan tersebut. 

"Jika hati kembali diibaratkan sebagai wadah, maka ucapan dan tingkah laku seseorang kerap mencerminkan kondisi di dalam hatinya. Semakin lapang dada seseorang akan semakin baik tingkah lakunya. Penuhilah hati Anda dengan yang baik, karena yang tumpah dari wadah adalah isinya," pesan dia.


(SBH)