Bolehkah Pemudik Berbuka Puasa?

Sobih AW Adnan    •    29 Juni 2016 09:00 WIB
tips mudik
Bolehkah Pemudik Berbuka Puasa?
Pemudik dengan sepeda motor. (MI/Liliek Dharmawan/ip)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perayaan Lebaran identik dengan pulang ke kampung halaman. Semangat silaturrahmi menjadi pendorong utama. Jarak berpuluh kilometer ditempuh. Berjam-jam waktu dan berbagai aral melintang tak dipedulikan. Di Indonesia, tradisi ini masyhur disebut mudik.

Lantas bolehkah para pemudik membatalkan puasanya? 

Seseorang yang menempuh perjalanan dengan jarak mencapai batas minimal diperbolehkannya menjamak (menggabungkan) dan menqashar (meringkas) salat fardu, maka diperbolehkan pula memilih untuk tetap berpuasa atau pun membatalkannya. Mazhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali mematok batas minimal jarak tempuh itu sepanjang 81 kilometer. Sementara menurut mazhab Hanafi disetarakan dengan jarak tempuh tiga hari dengan ketentuan waktu sejak pagi hingga Zawal (45 menit sebelum Zuhur) dan berjalan kaki sekitar 120 kilometer. 

Pilihan untuk tetap berpuasa atau berbuka ini merujuk pada sebuah hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari, yang artinya:

Sesungguhnya Hamzah bin Amr Al-Aslami berkata pada Rasulullah Muhammad SAW, “Apakah aku boleh berpuasa dalam bepergian (ia adalah orang yang banyak berpuasa)? Nabi  menjawab: "Barang siapa yang ingin berpuasa maka berpuasalah, dan siapa yang ingin berbuka, berbukalah." (Sahih Muslim No.1889)

Atau dalam hadits dengan redaksi berikut:

“Rasulullah Muhammad SAW berada dalam perjalanan, kemudian beliau melihat banyak orang berdesak-desakan dan ada pula seseorang yang dipayungi. Nabi bertanya: “Kenapa dia?” Mereka menjawab “Ia sedang berpuasa”. Rasulullah bersabda: “Berpuasa dalam perjalanan (yang sangat memberatkan) itu tidak termasuk kebajikan”. (HR. Bukhari No. 1807).

Pilihan berpuasa atau berbuka ketika dalam perjalanan juga bukanlah perkara yang patut diributkan. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari juga dikatakan, "Kami bepergian bersama Nabi SAW, orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa." (HR. Bukhari No. 1880).


(SBH)