Lailatul Qadar? Ini Penjelasan, Tanda-Tanda, dan Doanya

Sobih AW Adnan    •    25 Juni 2016 20:00 WIB
ramadan 2016
Lailatul Qadar? Ini Penjelasan, Tanda-Tanda, dan Doanya
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Ramadan bulan kemuliaan. Allah SWT telah memilihnya sebagai awal masa turunnya kitab suci Alquran. Sementara dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyebut bahwa di bulan penuh pengampunan ini Allah SWT senantiasa membukakan pintu langit, menutup pintu neraka, sekaligus membelengu setan-setan.

Banyak penjelasan yang patut dijadikan pegangan perihal keistimewaan bulan suci. Selain terdapatnya perintah untuk berpuasa, bulan ini juga masyhur disebut sebagai bulan yang di dalamnya terdapat kemurahan Allah SWT melalui lailatul qadar. Dalam QS. Al-Qadar 2-4, Allah SWT berfirman:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Ihwal penamaan

Ragam pendapat muncul melatar-belakangi penamaan lailatul qadar. Dalam Tafsir Mujahid dikisahkan bahwa penamaan lailatul qadar dalam Alquran berawal dari kisah seorang Bani Israil yang berjuang di jalan Allah selama seribu bulan. Malamnya ia habiskan untuk beribadah, sementara siangnya ia gunakan untuk menegakkan kebenaran. Lantas, kabar itu dielu-elukan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW, kemudian melalui sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman:

Malam lailatul qadar masihlah lebih baik daripada seribu bulan yang dilakukan lelaki Bani Israil itu. Lelaki yang tak pernah meletakkan senjatanya.

Lail dalam bahasa Indonesia diartikan malam, sementara qadar adalah kedudukan. Abu Bakr Al-Warraq dalam Tafsir Bahrul Muhith memaknai keduanya melalui penjelasan, "Barang siapa yang menghidupkan malamnya, maka akan mendapatkan kedudukan atau derajat yang lebih tinggi."

Begitu pun dengan pemaknaan istilah seribu bulan. Ulama tafsir bersilang pendapat. Satu versi menjelaskan bahwa yang dimaksud lailatul qadar adalah ibadah yang dilakukan di dalamnya bisa melebihi kadar pahala dari ibadah yang ditempuh selama 83 tahun. Sementara dalam Tafsir Bahrul Muhith dikatakan bahwa pemaknaan seribu bulan adalah bagian dari tradisi majas sastra Arab guna menunjukkan sebuah rentang waktu yang tidak terbatas.

Kapan?

Malam lailatul qadar banyak disinggung dalam Alquran maupun hadits Nabi. Akan tetapi perihal kapan malam keberkahan itu diturunkan tidak ada keterangan secara pasti, terkecuali dengan menimbang ragam penjelasan yang berkenaan dengannya.

Dalam Tafsir Al-Qurtubi disebutkan beberapa versi mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Satu pendapat mengatakan malam penuh rahmat itu diprediksi jatuh pada satu hari di antara sepuluh tanggal terakhir bulan Ramadan. Pendapat lain menyebutkan lailatul qadar diturunkan di antara sepuluh awal Ramadan. Begitu juga, muncul tafsir yang mengatakan secara garis besar ia akan diturunkan pada malam-malam bertanggal ganjil. Sementara menurut Abdullah ibn Zubair Radiallahu Anhu, lailatul qadar persis diturunkan pada malam ketujuh belas bulan suci.

Gambaran berbeda juga muncul pada hadits-hadits yang disampaikan para sahabat Nabi. Ali ibn Abi Thalib, Siti Aisyah, Muawiyah menandai lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh Ramadan. Sementara secara sepakat para ulama berpendapat lailatul qadar terjadi satu malam khusus di sepanjang bulan Ramadan.

“Allah SWT telah merahasiakan tentang malam lailatul qadar kepada umat manusia agar mereka senantiasa bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam-malam Ramadan dengan penuh pengharapan agar bisa menemukannya. Hal ini serupa ketika Tuhan merahasiakan Salat Al-Wustha, Ismul a’dham, waktu mustajab di hari Jumat, merahasiakan bentuk kemaksiatan yang dapat mengundang kemarahanNya, merahasiakan bentuk ketaatan yang bisa menghadirkan keridaanNya, juga seperti halnya Allah SWT merahasiakan kapan terjadinya kiamat. Semuanya hanya bertumpu pada rahmat dan hikmahNya," tulis Imam Tsa'labi dalam Al-Kasyf Wal Bayan ‘An Tafsiril Quran.

Tanda-tanda

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Khuzaimah, Rasulullah SAW pernah mengungkapkan tanda-tanda diturunkannya lailatul qadar. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Malam lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu sejuk. Pada pagi hari matahari bersinar lemah dan tampak kemerah-merahan."

Sementara dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Pagi hari (Subuh) setelah terjadinya lailatul qadar maka matahari akan terbit tanpa sinar serupa bejana berisi air, sampai matahari itu merangkak naik."

Kisah Rasulullah mendapati lailatul qadar juga diterangkan dalam beberapa hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Bukhari, dan Muslim. Rasulullah bersabda, "Aku terbiasa beriktikaf pada malam-malam ini, kemudian terasa padaku untuk iktikaf pada malam-malam akhir Ramadan. Maka barang siapa yang telah iktikaf bersamaku tetaplah dalam iktikafnya. Sebab aku telah diperlihatkan malam lailatul qadar kemudian dilupakannya, karena itu kalian cari pada malam-malam ganjil."

Baca: Lailatul Qadar dan Kekhusyukan Salat Nabi

Amalan dan doa

Banyak ulama menjelaskan bahwa apapun amalan dan doa yang dipanjatkan ketika bertepatan dengan malam lailatul qadar maka pahalanya akan dilipat-gandakan. Imam Sufyan Al-Sauri pernah berkata, "Telah sampai kabar kepadaku dari sahabat Mujahid Radiallahu Anhu bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Termasuk segala amalan di dalamnya."

Para ulama menafsiri keterangan tersebut dengan salat tarawih, tahajud, witir, hajat, serta bacaan Alquran. Seluruh pahala dari amalan-amalan itu akan disetarakan -bahkan melebihi- ibadah yang dilakukan selama seribu bulan.

Secara lebih jelas, doa yang dipanjatkan saat lailatul qadar dapat merujuk pada hadits Nabi yang diceritakan Siti Aisyah. Saat ia menanyakan doa itu kepada Nabi, Rasulullah SAW menjawab, "Bacalah, Allahumma innaka afwun, tuhibbul afwa fa’fu annî."

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan menyukai orang yang memohon ampunan, maka ampunilah aku." (HR. Imam At-Tirmidzi).


(SBH)