Tafsir Al Mishbah: Mewaspadai Istidraj

Sobih AW Adnan    •    10 Juni 2016 02:30 WIB
Tafsir Al Mishbah: Mewaspadai <i>Istidraj</i >
Ilustrasi/Freepik

Metrotvnews.com, Jakarta: Tidak semua manusia mampu memahami bahwa kenikmatan yang tengah diraihnya adalah rahmat ataukah cobaan. Jika anugerah dan kenikmatan yang diterima tidak dibarengi dengan pengabdian yang baik (bertakwa) kepada Tuhan, boleh jadi hal itu merupakan bagian dari proses yang akan mengantarkan manusia menuju kelalaian dan kehancuran. Dalam kajian Islam, hal ini lazim dinamakan istidraj.

Menurut ulama dan pakar tafsir KH Quraish Shihab, istijrad mengandung makna mengulur atau membiarkan. Ambil contoh, jika ada seorang yang durhaka namun tetap mendapatkan nikmat sementara di sisi lain ia tetap angkuh, maka potensi istidraj itu ada pada dirinya.

"Dia diulur. Dikasih, dikasih, dikasih, sampai di atas baru dia jatuh," kata Kiai Quraish dalam tayangan Tafsir Al Mishbah di Metro TV, Kamis (9/6/2016).

Istidraj sama pula seperti halnya seseorang yang sedang menapaki anak tangga kemaksiatan. Pada anak tangga pertama, kata Quraish, semestinya dia telah merasakan ketidak-benaran dan segera bertobat, namun seseorang itu lebih memilih untuk abai.

"Kemudian naik di tangga kedua, ketiga, lantas tiba-tiba berada di puncak, kemudian jatuh," kata dia mencontohkan.

Ihwal istidraj tergambar jelas dalam surat Al-A'raaf ayat 182, di dalamnya disebutkan "Kami akan menarik (mengulur) mereka dengan berangaur-angsur (kearah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui."

Kiai Quraish melanjutkan, istidraj juga berkaitan erat dengan janji Allah SWT untuk tidak membongkar rahasia atau keburukan seseorang sampai ia melakukan berulang-ulang. Dan ciri orang beriman adalah ia yang memiliki kesadaran sejak melakukan kesalahan pertama. Hal itu bisa dipelajari dari teguran atau ujian yang menimpa.

"Mengapa Allah tidak langsung menghukum dan cenderung memberi kesempatan kepada yang bersangkutan (berbuat dosa)?, karena salah satu sifat Allah SWT adalah Al-Halim, artinya menahan amarah atau tidak menjatuhkan sanksi guna memberi kesempatan kepada yang berdosa untuk bertobat, introspeksi, atau malah akan menambah siksaan." ujar Quraish Shihab.
(SBH)