Bahaya Mengantuk Saat Berkendara

   •    20 Juni 2017 08:48 WIB
mudik lebaran 2017
Bahaya Mengantuk Saat Berkendara
Ilustrasi. (Huffingtonpost)

Metrotvnews.com, Jakarta: Praktisi kesehatan tidur dr. Andreas Prasadja mengakui bahwa penyebab kecelakaan lalu lintas terbesar adalah kelalaian pengemudi, yang paling umum adalah mengantuk. Menurut dia, mengantuk bukan hanya soal tertidur, lebih dari itu juga berkaitan dengan konsentrasi, kewaspadaan dan respons refleks yang menurun.

"Ini terjadi karena ada kebutuhan yang tidak tercukupi, tidur itu. Ingat, mengendara dalam kondisi mengantuk itu lebih berbahaya daripada dalam kondisi mabuk," ungkap Andreas, dalam Metro Plus, Senin 19 Juni 2017.

Andreas mengatakan berkendara, terutama saat mudik yang memiliki jarak perjalanan cukup panjang harus dipersiapkan dengan matang. Hal yang paling utama adalah pengemudi tidak boleh kurang tidur bahkan utang tidur.

Pasalnya, kata Andreas, pada saat tidur itulah kemampuan berkendara dibangun. Tidak ada hal apapun termasuk vitamin, stimulan, bahkan makanan atau minuman yang bisa menggantikan efek restoratif tidur.

"Kebutuhan tidur dewasa itu 7-8 jam per hari. Ini harus dicukupi terlebih dulu, kemudian memang disyaratkan satu malam sebelum berkendara paling tidak sudah tidur 6 jam tapi dengan catatan malam-malam sebelumnya harus sudah cukup tidur," katanya.

Selain cukup tidur, Andreas juga meminta setiap pengemudi untuk memahami kondisi kesehatan masing-masing. Sebab ada beberapa penyakit tidur yang kemungkinan diidap oleh pengemudi yang tidak disadari.

Misalnya hipersomnia, yakni kantuk yang terus menerus meskipun sudah cukup tidur. Orang dengan hipersomnia sama sekali tidak disarankan untuk mengemudi.

Kemudian ada pula narcolepsy atau tiba-tiba jatuh tertidur, periodic limb movement in sleep atau henti napas saat tidur hingga sleep apnea atau tidur mendengkur. 

Andreas mengatakan di luar negeri, orang-orang yang mengidap penyakit tidur seperti mendengkur selain tidak diizinkan untuk berkendara, dokter yang menangani pun wajib menahan lisensi mengemudi penderita. Jika tidak, hal ini disebut sebagai bentuk malpraktik.

"Kondisi-kondisi seperti inilah yang di Indonesia orang kurang tahu, kurang menyadari, main berkendara begitu saja. Mungkin dibantu kafein dan lain-lain, tapi ketika melakukan aktivitas monoton seperti mendengarkan seminar atau berkendara, kantuk akan langsung menyerang," jelasnya.




(MEL)