Metro Plus

Perlukah Marah?

   •    26 Mei 2017 14:51 WIB
kesehatan mental
Perlukah Marah?
Ilustrasi marah. (Foto: Huffingtonpost)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terkadang, hidup tak selalu sesuai dengan harapan kita. Hal-hal yang dianggap tidak cocok sering kali membuat seseorang tidak menerima dan bereaksi dengan kemarahan. Padahal, marah bukanlah sifat alami yang dibawa oleh manusia.

Lalu, perlukah kita marah?

"Marah itu emosi, dia milik kita, maka itu perlu. Marah itu seperti elemen api dalam tubuh kita. Tergantung bagaimana kita mengatur dan menyikapi api tersebut?" ujar coach Erbe Sentanu, dalam Metro News, Jumat 26 Mei 2017.

Erbe Sentanu mengibaratkan marah seperti api dalam tungku. Tanpa api, masakan yang dibuat tidak akan matang. Tetapi api itu juga harus dijaga, disesuaikan. Tidak terlalu besar dan membuat masakan hangus dan tidak terlalu kecil sehingga proses memasak menjadi lama.

Misalnya, masyarakat di kota-kota besar kerap bertemu kemacetan ketika berangkat dan pulang bekerja. Kemampuan untuk mengatur 'api' di dalam tubuh akan memengaruhi seseorang dalam memanaje kemarahan.

"Makanya Ramadan ini fokusnya ke api saja. Apa yang dilemparkan orang ke kita, fokus pada apinya saja. Kalau apinya, sabarnya kita kuasai apapun masalahnya senyumin saja, kita buat dia terkendali. Itulah gunanya puasa," katanya.

Erbe Sentanu mengingatkan bahwa maksud dari ibadah puasa adalah memperbaiki karakter. Berdamai dengan sesuatu yang tidak bersahabat dan tidak selalu menyalahkan keadaan.

Ketika tidak menyukai sesuatu, kata Erbe, cukup fokus pada satu hal saja jangan merembet ke hal lain yang membuat kerugian lebih besar pada diri sendiri.

"Stop pemikiran kita yang orang harusnya memakai pakaian ini, seharusnya begini, seharusnya begitu. Sikap seharusnya, soalnya, takutnya, jangan-jangan itu coret dari kita. Yang ada dibuat asik saja, itu attitudenya," jelasnya.




(MEL)