Puasa Aman bagi Penderita Diabetes

Putri Rosmala    •    24 Mei 2017 11:58 WIB
ramadhan
Puasa Aman bagi Penderita Diabetes
(Foto: Netdna)

Metrotvnews.com, Jakarta: Edukasi dan disiplin merupakan bekal wajib bagi penderita diabetes melitus (DM) bila ingin menjalankan ibadah puasa Ramadan. Persiapan menjalankan ibadah tersebut sebaiknya dilakukan sejak dua hingga empat bulan sebelum memulai puasa.

Di antaranya, pemeriksaaan kesehatan, kontrol gula darah yang teratur dan terkendali, tekanan darah, dan kondisi lain yang bisa menyebabkan risiko berbahaya saat mejalankan ibadah puasa.

"Persiapan tersebut harus dilakukan karena selama berpuasa akan terjadi beberapa perubahan. Mulai dari perubahan asupan cairan, perubahan jadwal dan pola waktu makan, serta aktivitas pada siang hari. Semua itu membuat penatalaksanaan pada penderita diabetes harus disesuaikan dengan kondisi individu masing-masing penderita DM yang menjalankan ibadah puasa," kata dokter spesialis penyakit dalam, konsultan endokrin, metabolis, dan diabetes RS Bethsaida Latif Choibar Caropeboka kepada Media Indonesia di Tangerang, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) 2015, Indonesia berada pada peringkat ke-7 dari 10 negara dengan penyandang diabetes terbesar di seluruh dunia. Jumlah penderitanya diperkirakan 10 juta orang. Adapun data nasional, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, tingkat prevalensi diabetes sebesar 6,8% atau sekitar 9,1 juta jiwa.

Latif mengatakan terdapat beberapa golongan penderita diabetes yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan berpuasa. Beberapa yang berisiko sangat tinggi bila melakukan puasa adalah penderita diabetes yang pernah mengalami hipoglikemia berat atau kadar gula sangat rendah dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, mereka yang memiliki kendali kadar gula buruk secara berkelanjutan, penderita diabetes tipe 1, tengah hamil, dan penderita diabetes yang mengalami beberapa penyakit seperti gangguan ginjal berat, hipertensi, dan penyakit berat lainnya.

"Yang boleh berpuasa karena tingkat risikonya rendah ialah penderita diabetes yang sehat serta mau dengan serius mengatur gaya hidup dan mengonsumsi obat secara teratur dengan dosis sesuai dengan anjuran dokter," ujar Latif.

Ia menjelaskan, sebelum diputuskan apakah penderita diabetes dapat berpuasa atau tidak, sebelumnya dibutuhkan pemantauan berkala. Pemantauan dianjurkan dilakukan empat bulan atau setidaknya dua bulan sebelum Ramadan.

"Semua pasien diabetes yang akan menjalankan puasa harus menyiapkan diri terlebih dulu melalui pemeriksaan medis, serta edukasi terkait pola dan cara makan dan edukasi obat. Pemilihan obat dan penerapannya harus melalui konsultasi dengan dokter dan tidak dapat dilakukan secara mendadak tanpa penyesuaian, dan tetaplah berkomunikasi dengan dokter bila timbul suatu gejala," katanya.

Asupan sama

Menurutnya, perubahan jadwal makan harus diterapkan dengan baik dan porsinya teratur. Penderita diabetes juga harus mendapat asupan kalori yang sama seperti saat tidak berpuasa. Namun, pembagiannya ketat dan teratur, tidak berlebihan atau kurang di waktu-waktu tertentu. Adapun perubahan pola pengobatannya harus dilakukan sesuai hasil konsultasi dengan dokter masing-masing.

"Pembagiannya kurang lebih, takjil 10%, makan utama waktu iftar (berbuka puasa) 40%, setelah tarawih 10%, dan ketika sahur 40%. Penderita diabetes yang berpuasa tanpa persiapan, gula darahnya berpotensi tidak terkendalinya," tutur Latif.

Beberapa risiko yang dihadapi penderita diabetes bila berpuasa tanpa persiapan ialah hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi trombosis, hingga risiko koma, dan kematian. Potensi hiperglikemi atau kadar gula sangat tinggi umumnya muncul bila penderita tidak mengontrol asupan makan saat berbuka puasa.

Sementara itu, hipoglikemi berpotensi muncul bila asupan makan sahur tidak cukup atau waktu melaksanakan sahur terlalu jauh dari waktu imsak, penderita melakukan aktivitas berlebihan dan asupan cairan kurang, sehingga dapat menimbulkan dehidrasi.


(DEV)