Tafsir Al Mishbah: Pesan Alquran untuk Orang yang Sedang Berselisih

Sobih AW Adnan    •    18 Juni 2016 03:30 WIB
tafsir al mishbah
Tafsir Al Mishbah: Pesan Alquran untuk Orang yang Sedang Berselisih
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebagai makhluk yang dibekali Allah SWT dengan ragam watak dan kemampuan yang berbeda-beda, manusia kerap kali terlibat dalam perselisihan. Berselisih bukan melulu perkara tabu. Ia akan menjadi sesuatu yang bermanfaat jika mampu dikelola dengan baik. Kitab suci Alquran memberikan pesan mengenai bagaimana seharusnya sikap seorang muslim ketika tengah berada dalam perselisihan. Gambaran itu terkandung dalam QS. An-Naml ayat 76 - 81.

Sesungguhnya Alquran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.

"Mengapa Alquran menyebutkan kata 'sebagian'?, bukan seluruhnya. Sebab perselisihan itu tidak selalu penting. Apa yang diperselisihkan ada yang berupa hal-hal esensial, ada pula yang bersifat remeh. Ini yang dimaksud Alquran, jika terlibat dalam sebuah perselisihan maka pertimbangkan tentang penting atau tidaknya. Jika tidak penting, tinggalkan," terang KH Quraish Shihab dalam tayangan Tafsir Al Mishbah di Metro TV, Jumat (17/6/2016).

Dijelaskan pula bahwa Alquran pun tidak memuat sesuatu yang dianggap tidak penting. Oleh sebab itu, pada ayat selanjutnya Allah SWT menyebut Alquran sebagai hidayat dan rahmat untuk semua orang yang beriman. Kata beriman menunjukkan bahwa Allah SWT pun hanya menurunkan hidayah dan petunjuk kepada yang berkenan.

Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Naml: 78).

Melalui ayat ini Tuhan memerintahkan seorang manusia untuk menyerahkan keputusan dari apa yang diperselisihkannya kepada Allah SWT. Dia akan menunjukkan janjinya dengan memberikan putusan yang benar di antara dua hal yang diperselisihkan di hari kemudian alias di akhirat.

"Allah SWT yang akan menjadi hakimnya. Kenapa sering terjadi kesalahan dalam menetapkan hukum (di dunia)?. Karena bisa jadi hakim yang dipercaya tidak selalu mengetahui perkara yang akan diputuskannya, atau tidak tahu secara terperinci tentang permasalahannya. Atau karena hakim itu diberi sifat butuh, maka terjadilah suap. Sementara Allah SWT tidak akan pernah salah karena Dia Maha Mengetahui, juga bersifat Al-Aziz (Maha Perkasa), tidak membutuhkan sesuatu," kata Quraish Shihab.

Lebih lembut dari perselisihan adalah berdiskusi. Diskusi adalah sebuah upaya untuk mendapatkan kebenaran dari siapapun yang menemukannya. Maka ketika salah satu dari keduanya masih belum bisa bersepakat dan buntu, maka disarankan Alquran untuk dihentikan. Hal ini sesuai dalam QS. An-Naml: 79, "Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata."

"Maksud dari ayat ini adalah berserah diri kepada Allah itu bukan berarti karena salah. Seperti ketika Allah SWT yang memerintahkan Nabi Muhammad agar berserah diri kepada Tuhan. Kamu (Muhammad) sudah benar, tapi serahkan saja kepada Aku, kata Allah. Bukan pula akan membelamu karena engkau tidak mampu atau salah. Engkau (Muhammad) berada di dalam kebenaran, kendati engkau di dalam kebenaran; jangan bertengkar," jelas Quraish Shihab.

Prinsip penting selanjutnya adalah meninggalkan atau menghindari perselisihan bersama orang yang telah mati hatinya. Pesan ini tampak kuat dalam QS. An-Naml ayat 80:

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.

"Orang mati dalam bahasa agama bisa berarti tentang ruh yang telah meninggalkan jasad, atau bisa juga berarti hatinya yang mati. Ayat itu menggambarkan orang-orang yang telah menutup mata hatinya untuk mendengarkan kebenaran. Meskipun pada konteksnya Nabi yang sedang menyampaikan kebenaran. Maka hindarilah perselisihan dengan orang yang tidak mau menerima kebenaran," pesan Quraish Shihab.


(SBH)