Metro Plus

Menyiasati Pengeluaran Keuangan Selama Ramadan

   •    23 Mei 2017 12:58 WIB
ramadan 2017
Menyiasati Pengeluaran Keuangan Selama Ramadan
Ilustrasi. Petugas menyiapkan makanan untuk berbuka puasa di Kampung Ramadan Jogokariyan, Yogyakarta. (Foto: ANTARA/Andreas Fitri)

Metrotvnews.com, Jakarta: Selama Ramadan, umumnya orang cenderung lebih konsumtif ketimbang hari-hari biasa. Makanan merupakan faktor utama pemicu meningkatnya pengeluaran selama ramadan.

Perencana keuangan Prita Ghozie mengatakan, meskipun di siang hari tidak ada waktu makan, secara statistik, pembelian makanan selama ramadan cenderung meningkat.

"Akibatnya, kalau pola pengeluarannya sama dan membeli lebih banyak makanan di bulan ramadan, pasti gaji yang kita peroleh tidak akan cukup untuk memenuhi itu," ujar Prita, dalam Metro Plus, Selasa 23 Mei 2017.

Untuk menyiasati krisis keuangan yang bisa terjadi selama ramadan, Prita menyarankan agar masyarakat mengubah pola anggaran. Hanya selama Ramadan. Sebab, bukan tidak mungkin undangan berbuka puasa atau sahur bersama bisa datang setiap hari, dan hal itu tentu membutuhkan dana.

Paling tidak, kata dia, sisihkan 20-30 persen penghasilan untuk makanan dan undangan berbuka puasa, 30 persen tetap dialokasikan untuk biaya wajib seperti cicilan, 20 persen untuk listrik dan kebutuhan rumah tangga lain, 10 persen untuk cadangan dana darurat dan 10 persen sisanya dialokasikan untuk zakat dan sedekah.

Khusus untuk dana tunjangan hari raya (THR) Prita menyarankan agar dana itu dialokasikan untuk investasi atau simpanan. Sebab, biasanya setelah ramadan usai, krisis keuangan akan kembali terjadi.

Selain itu, meminjam atau menggadaikan aset untuk memenuhi kebutuhan ramadan juga tidak disarankan. Apalagi jika urgensinya untuk belanja hanya karena ingin tampil lebih. Meminjam dana atau gadai boleh, asalkan memang sangat dibutuhkan.

Misalnya, kata dia, penghasilan yang tidak mencukupi atau THR yang tidak turun namun pengeluaran tetap harus dipenuhi bisa mencari pembiayaan lain. Bisa dari meminjam dana atau menggadaikan aset.

"Utamakan gadai dulu. Kalau gadai kita punya aset, seburuk-buruknya enggak bisa bayar aset kita lepaskan. Kalau kita pinjam ada kewajiban membayar, kalau tidak mampu bayar akan jadi hutang dan itu bahaya sekali," katanya.




(MEL)