Masjid Agung Al Karomah, Simbol Kota Santri dan Ulama

Denny S    •    23 Juni 2014 14:55 WIB
masjid
Masjid Agung Al Karomah, Simbol Kota Santri dan Ulama
Masjid Agung Al Karomah di Kota Martapura/Wikipedia.

Metrotvnews.com, Banjar: Keberadaan Masjid Agung Al Karomah semakin memperkuat julukan Kota Martapura, Kabupaten Banjar, sebagai kota santri, kota ulama dan Serambi Mekkah Kalimantan Selatan.

Selama ini Kota Martapura, Ibu Kota Kabupaten Banjar, terkenal hingga ke mancanegara sebagai salah satu kota penghasil intan dan batuan permata. Kini setelah Masjid Al Karomah berdiri, pelancong hampir tidak pernah melewatkan untuk mengunjungi masjid megah ini.

Banjar tergolong istimewa karena terdapat Kesultanan Banjar. Sultan Banjar saat ini, Sultan Khairul Saleh, menjabat Bupati Banjar. Walau belum menerapkan syariat Islam, Pemkab Banjar ketat dalam mengatur tatanan kehidupan sosial masyarakatnya sesuai kaidah Islam.

"Masjid Al Karomah merupakan salah satu simbol Kota Martapura yang Islami," kata Sultan Khairul Saleh, Bupati Banjar. Disebut Kota Santri karena di daerah ini banyak terdapat pondok pesantren, beberapa di antaranya terkenal hingga daerah lain di Tanah Air, seperti Pondok Pesantren dan Pusat Pendidikan Darussalam yang memiliki ribuan santri.

Disebut Kota Ulama karena dari daerah ini muncul sejumlah ulama besar yang punya pengaruh, baik di Kalsel maupun nasional. Beberapa ulama kondang asal Martapura antara lain Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (alm.), Guru Sekumpul (alm.) dan Abah Anang Djazouly (alm.).

Sebelum dipugar menjadi megah seperti sekarang, Masjid Agung Al Karomah pada awalnya bernama Masjid Jamiâh Martapura. Dibangun dari bahan kayu ulin (kayu besi) dengan bentuk bangunan meniru Masjid Agung Demak dengan atap limasan bersusun tiga.

Para arsitek sengaja berangkat ke Demak untuk mendapatkan miniatur Masjid Demak lengkap dengan skalanya sebagai referensi pembangunan masjid. Pada 10 Rajab 1315 Hijriyah atau pada 5 Desember 1897 Masehi dimulailah pembangunan Masjid Jamiah Martapura dengan struktur utama dari kayu ulin dengan atap sirap, dinding dan lantai papan kayu ulin.

Pada 12 Rabiul Awal 1415 Hijriyah bertepatan dengan perayaan hari kelahiran Nabi MMuhammad SAW, Masjid Jamiâh Martapura berubah nama menjadi Masjid Agung Al Karomah.

Bangunan mengalami tiga kali renovasi. Renovasi terahir pada 2004 menelan biaya Rp27 miliar. Bentuk arsitektur menggabungkan bangunan modern Eropa, Timur Tengah, namun tetap mempertahankan empat tiang ulin yang jadi saka guru peninggalan bangunan pertama Masjid Jamiâh Martapura. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Masjid Al Karomah Martapura terlihat begitu indah dan menawan di malam hari dengan cahaya lampu berkilau. Saat Ramadan seperti sekarang ini, Masjid Agung Al Karomah juga menjadi pusat kegiatan ke-Islaman, seperti tabligh akbar, tarawih, tadarus dan kegiatan lainnya.


(DOR)