Cerita di Balik Fanous, Lentera Warna-warni Ramadan

Meilikhah    •    10 Juni 2016 10:06 WIB
ramadan 2016
Cerita di Balik Fanous, Lentera Warna-warni Ramadan
Fanous. (foto: AP)

Metrotvnews.com, Mesir: Ramadan telah datang ke seluruh penjuru dunia. Salah satu penandanya adalah fanous, lentera warna-warni berbagai bentuk dan ukuran yang menjadikan Ramadan semakin semarak.

Salah satu negara yang masih melestarikan tradisi fanous adalah Mesir. Di negara piramida itu, fanous berwarna-warni menerangi jalan dan menciptakan suasana yang indah dan magis. Secara tak langsung, fanous sudah menjadi simbol di seluruh dunia mewakili datangnya bulan suci.

Tapi, mengapa fanous dijadikan sebagai simbol datangnya bulan suci Ramadan?

Menurut Managing Director dari Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding Dr. Nasif Kayef, konsep fanous berasal dari Mesir kuno.

"Cerita menyatakan sekitar tahun 358 Hijriyah selama Dinasti Fathimiyah, ketika Khilafah Al Mu'izz li-Din Allah pada hari pertama Ramadan, orang-orang keluar untuk menyambutnya dengan lentera. Sebelumnya, lentera hanya digunakan untuk penerangan pada malam hari dan ketika hendak ke masjid," kata Nasif, melansir Al Arabiya, Jumat (10/6/2016).

"Tapi setelah Khalifah datang seluruh masyarakat menyambutnya dengan lentera. Sejak saat itulah Ramadan menjadi lebih indah karena lentera-lentera," tambahnya.

Meski begitu, Nasif mengatakan ada pendapat yang berbeda terkait asal-usul fanous. Situs Mesir Ahram menulis, saat Dinasti Fathimiyah, pemerintah mengeluarkan hukum yang mengharuskan toko dan pemilik rumah menggantung lentera di pintu sepanjang malam.

Kemudian Khalifah al Hakim (996-1021) memerintahkan wanita untuk tidak meninggalkan rumah mereka di malam hari kecuali bersama seorang anak yang membawa lentera. Dia juga memerintahkan setiap rumah menggantung lentera dan mengenakan sanksi jika tidak diikuti. Hal ini menyebabkan ledakan bisnis lentera dan kemunculannya dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Namun di era modern, dengan ketersediaan listrik dan teknologi, fanous tak lagi digunakan sebagai penerangan. Melainkan dijadikan hiasan di jalan kota untuk menciptakan lingkungan yang meriah saat Ramadan. 

Nasif mengatakan fanous akhirnya menjadi simbol budaya, bukan simbol agama seperti memperesentasikan fanous sebagai penanda datangnya Ramadan. Meski begitu, generasi muslim tetap berpegang pada tradisi fanous dalam menyambut bulan suci Ramadan.

"Penting untuk menarik garis antara representasi agama dan budaya. Dalam Islam, agama tidak memiliki simbol, bahkan simbol bulan sabit sekalipun. Seperti halnya pohon natal yang dihias bukan sebagai simbol natal, tapi hanya simbol merayakan natal," jelasnya. 


(MEL)