Panjangnya Sejarah Tol di Indonesia

Sobih AW Adnan    •    19 Juni 2017 05:32 WIB
ramadan 2017
Panjangnya Sejarah Tol di Indonesia
ILUSTRASI: Tol Jagorawi/?ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Metrotvnews.com, Jakarta: Jalan tol, menjadi insfrastruktur vital dan paling diperhitungkan selama arus mudik dan balik Lebaran. Pada 2017, sekurangnya ada 402 kilometer jalan bebas hambatan yang difungsikan pemerintah demi kelancaran pulang kampung tahunan masyarakat muslim Indonesia.

Keberadaan jalan tol, memang bukan barang anyar. Meski pengistilahannya baru ada di era Orde Baru, tapi gagasan dan tekadnya sudah hidup sejak lama.

Hindia Belanda

Babat alas, yakni membuka hutan belantara untuk dijadikan lintasan jalan, sebenarnya sudah dilakukan sejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sepanjang tahun 400 hingga 1519 Masehi, proyek itu dilakukan Kerajaan Tarumanegara, Melayu, Kutai, Sriwijaya, Majapahit, dan lain sebagainya. 

Pembangunan jalan-jalan baru, tiada lain, demi keperluan memperlancar urusan dagang antara kerajaan dan para pendatang. Khususnya, para pedagang dari Tiongkok, India, Portugis, Arab Saudi, juga Belanda. 

Memasuki tahun 1605, kongsi dagang belanda, VOC turut meramaikan proyek pembuatan jalan baru. Mereka berkepentingan menghubungkan pusat-pusat pertanian dan perkebunan rakyat menuju pelabuhan. 

Puncaknya, tentu, setelah VOC bangkrut dan segala urusannya diambil alih Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun jalan dengan panjang lebih dari 1.000 kilometer yang membentang dari Anyer, Banten sampai Panarukan, Situbondo, Jawa Timur.  

Jalur yang dihasilkan dari penindasan terhadap ribuan pribumi itu, diberi nama Jalan Raya Pos atau de Grote Postweg.

Baca: Berandai-andai Mudik di Era Hindia Belanda


"Ratusan tahun kemudian dibangun jalan tol pertama Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi). Tetapi, kini Pemerintah Republik Indonesia yang merdeka. Maksudnya baik: memperlancar hubungan antara Ibu Kota Negara dengan daerah-daerah di sekitarnya," tulis Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Indonesia Kabinet Pembangunan V, Emil Salim, dalam Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi (2010).

Diawali Jagorawi

Bagaimanapun, titik mula riwayat jalan tol di Indonesia dimulai dari Jagorawi. Jalan bebas hambatan sepanjang 59 kilometer itu diresmikan Presiden Soeharto pada 1978.

Ide pembangunan tol, sejatinya pernah muncul di zaman kepemimpinan Presiden Soekarno. Akan tetapi, gagasan itu ditolak lantaran menarik duit dari pengguna jalan dianggap mental warisan penjajah Belanda.

"Di jembatan panjang, pada ujung jalan MH Thamrin itulah diusulkan untuk didirikan tempat guna pemungutan tol bagi tiap kendaraan bermotor yang lewat," tulis Subagijo, dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti (1981).

Dalam buku itu, Subagijo menuliskan, Gubernur DKI Jakarta Sudiro mengusulkan pembangunan jalan tol kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) pada 1955. Sayangnya, gagasan kakek dari aktor Tora Sudiro itu ditolak. 

Alasan lain yang mengganjal, proyek itu ditaksir akan menguras anggaran sangat besar.

Baca: Buruh Batavia Menuntut THR

Cita-cita Sudiro tidak terkubur. Pada 1970-an, keinginan itu kembali muncul melalui Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Sutami.

Gayung pun bersambut, Indonesia yang kala itu sudah dalam kendali 'Bapak Pembangunan' langsung mengekskusi proyek jalan tol yang menghubungkan Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.

"Pada masa pembangunannya, jalan tol Jagorawi sebenarnya direncanakan memiliki dua fungsi, sipil dan militer. Sebagai jalan bebas hambatan pada masa damai, dan sebagai landing-strip darurat bagi pesawat-pesawat tempur pada masa perang," tulis Rizki Ridyasmara, dalam The Jacatra Secret (2013).

Proyek yang dikepalai Hendra Mulyono itu dilaporkan menelan biaya Rp350 juta (kurs dolar saat itu) untuk setiap kilometernya. Tak hanya ongkos materi, pembangunan jalan yang amat dibanggakan Soeharto ini menelan korban jiwa sebanyak 21 orang warga Indonesia dan 1 orang warga Korea.

"Jalan ini (Jagorawi) adalah jalan yang istimewa, karena merupakan 'jalan bebas' yang pertama di Indonesia, dan mutunya adalah sama dengan mutu jalan yang terkenal di negara-negara yang sangat maju," ucap Soeharto saat meresmikan Tol Jagorawi pada 9 Maret 1978, dikutip dari Jejak Langkah Pak Harto: 27 Maret 1973-23 Maret 1978 (1991).


(SBH)