Berandai-andai Mudik di Era Hindia Belanda

Sobih AW Adnan    •    16 Juni 2017 17:02 WIB
ramadan 2017
Berandai-andai Mudik di Era Hindia Belanda
ILUSTRASI/Kemacetan di Tegal, Jawa Tengah/ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/

Metrotvnews.com, Jakarta: Diperkirakan akan ada 19 juta orang yang pulang kampung pada musim mudik Lebaran 2017. Mereka menyebar ke berbagai tujuan, juga dengan menggunakan aneka moda transportasi dan kendaraan.

Demi menjamin kelancaran dan keamanan tradisi tahunan ini, pemerintah menyiapkan segala keperluan dengan semangat bisa lebih baik dari mudik sebelumnya. Tragedi di Brexit, alias pintu keluar Tol Brebes, Jawa Tengah yang pernah menjadi sorotan 2016, amat diupayakan untuk tidak lagi terulang.

Meski sejatinya, tradisi mudik hari ini harusnya lebih lancar, aman, dan mudah seiring infrastruktur dan fasilitas yang terus digenjot dan kian memadai. Tak sedikit jalur-jalur baru dibuka, jumlah angkutan massal ditambah, juga personel keamanan yang sudah disiapkan di banyak titik dan area.

Perkara pulang kampung jelang Lebaran, kiranya cuma menyisakan kesiapan pemudik itu sendiri. Siap jiwa dan raga untuk bermacet-macetan, bersedia tertib lalu lintas, atau jauh-jauh hari memesan tiket dan keperluan selama di perjalanan.

Bisa dibayangkan, bagaimana suasana tradisi mudik di zaman penjajahan kolonial Belanda. Saat akses jalan masih begitu rumit, bahkan di beberapa titik harus menembus hutan, sungai, lembah, atau rawa-rawa.

Tak ada data pasti seperti apa suasana pulang kampung jelang Idulfitri masa itu dilakukan. Tapi, setidaknya bisa dibaca melalui keadaan infrastruktur, jenis kendaraan, atau kebijakan Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1800-an.

Mari, sedikit berandai-andai bermudik ria di zaman Hindia Belanda.

Jalur utama

Sederhananya, arus mudik, -terutama jalur darat di Jawa saat ini- tidak lain dan tidak bukan menggunakan jalan warisan masa Hindia Belanda. 

Ialah Jalan Raya Pos atau de Grote Postweg yang dibangun melalui tangan dingin Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808.  Jalur inilah, yang sekarang lazim disebut Pantura (pantai laut utara Jawa). Kurang lebih 1.000 kilo meter, jalan ini membentang dari Anyer, Banten sampai Panarukan, Situbondo, Jawa Timur. 

M. Sahari Besari, dalam Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi (2008) menulis, setiap 4,5 kilometer di sepanjang Jalan Daendels didirikan pos sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. 


Mercusuar Titik Nol Anyer/ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Jalan Raya Pos, memang dibangun untuk memperlancar komunikasi antardaerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa. Selain itu, sebagai benteng pertahanan Jawa dari ancaman Inggris.

Sudah barang tentu, jalan yang baru dibangun melalui sistem kerja paksa yang melibatkan puluhan ribu kaum pribumi itu tidak seramai hari ini. Lagi pula, pada praktiknya penjajah tidak lantas mengizinkan siapapun boleh melintas. Apalagi buat mudik Lebaran.

"Meskipun mobilitas penduduk setempat tampak sedikit meningkat, namun Jalan Daendels tetap tampak kurang ramai karena kendaraan pengangkut pribumi, seperti pedati sapi atau kerbau, tidak diizinkan bergerak di atas jalan tersebut. Rodanya yang bersabuk besi dianggap sangat merusak kondisi badan jalan yang dilaluinya," tulis Sahari.

Di titik tertentu, Belanda memang menyediakan jalur khusus di sisi Jalan Raya Pos untuk lintasan angkutan pribumi. Tapi, tidak banyak.

"Dahulu dibangun jalan pedati di sisi ruas Jalan Daendels antara Weltevreden (Gambir) dan Meester Cornelis (Jatinegara). Namun pada umumnya fasilitas jalan pedati tersebut tidak tersedia pada bagian terbesar sistem jalan de Groote Postweg," tulis dia masih dalam buku yang sama.

Moda transportasi

De Grote Postweg harus menunggu hampir 100 tahun sampai kehadiran teknologi mobil dan berkembang menjadi cikal-bakal jaringan jalan raya di Pulau Jawa.

Rudolf Mrazek, dalam Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni (2006) menggambarkan, pertumbuhan kendaraan mobil yang amat massif baru terjadi pada 1939. Di tahun itu sudah ada 51.615 mobil di Hindia Belanda. 

"Sebanyak 37.500 ada di Jawa, 7.557 di Batavia, 4.945 di Bandung, dan 675, misalnya, di Jepara-wilayah Rembang, tempat Kartini tinggal dan meninggal," tulis Mrazek.

Tentu saja, mobil itu cuma dimiliki orang Eropa. Berbeda dengan kereta api, yang bagaimanapun, sejak awalnya sudah ada tanda-tanda kehadiran pribumi di belakang kemudi. Mrazek membuktikannya melalui rekaman peristiwa lalu lintas pada 1928.

"Pada tiga bulan pertama, di Surabaya terjadi 524 kecelakaan lalu lintas yang serius. Sebanyak 24 persen disebabkan oleh mobil, 23 persen sebab kereta api dan trem, sementara 17 persennya disebabkan motor. Pengemudi yang terlibat kecelakaan itu, 11 persen merupakan orang Eropa, 6 persen orang Cina dan Arab. Sementara sebanyak 83 persennya pribumi," tulis dia.


Lokomotif uap B 2503 di perlintasan kereta api di Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Sementara jaringan transportasi kereta api, dimulai Belanda pada 1840. Jaringan kereta api di Jawa merupakan kelanjutan dari seri teknologi angkutan trem yang dikenalkan perusahaan Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM), untuk warga Batavia. 

Mulanya, trem menandalkan tenaga penarik utama dari kuda. Sementara lebar badan gerbongnya sekitar 1.188 milimeter saja.

Pembangunan jaringan kereta api diprakarsai Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan rute Kemijen-Tanggung. Peresmian jalur itu dilakukan Mr. L.A.J.W. Baron Sloet van de Beele. 

Pada 1873, jalur ini berhasil dihubungkan dengan tiga kota di Jawa Tengah, yaitu Semarang, Solo, dan Yogyakarta.

"Kemudian, kereta api menjadi simbol terpenting yang dianggap merepresentasikan suasana kemajuan zaman. Apalagi, saat terselenggaranya jaringan yang menghubungkan kota-kota besar penting di Jawa. Mulai dari Batavia (Jakarta), Cirebon, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, sampai Surabaya," tulis Budi Susanto, S.J, dalam Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia (2003).

Beda lagi dengan jalur laut dan penerbangan. Perusahaan pelayaran pertama Hindia Belanda muncul pada 1890. Koninkelijitke Paketvaart Maattscappi (KPM) merupakan satu-satunya badan usaha yang diberikan hak monopoli oleh Pemerintah Kolonial.

Untuk penerbangan, pesawat jenis Antoinette menjadi pesawat bermotor pertama di Hindia Belanda. Uji coba perdana dilakukan pada 18 Maret 1911 di Pasar Turi, Surabaya. Tak begitu lama, proyek dilanjutkan ke Semarang, Yogya dan Medan, disusul Batavia dan Yogyakarta.

"Modernisasi jasa transportasi laut lebih memengaruhi. Bukan hanya mempercepat volume perdagangan internasional, tetapi juga memfasilitasi percepatan arus migrasi penduduk," tulis Budi.

Alternatif

Memasuki abad 20, Gubernur Jenderal JP Graaf van Limburg Stirum yang memerintah pada 1916-1921 memiliki gagasan pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung, Jawa Barat. Atas kebijakan itu, pada 1906 Kota Kembang mulai dirias. Pemerintah Kolonial tidak cuma sibuk membangun kompleks perkantoran, tapi juga melakukan pengembangan jaringan sarana dan prasarana transportasi umum yang lebih dari sekadar memadai.

"Salah satunya adalah optimaliasai jarigan rel yang menghubungkan Batavia dengan Bandung melalui Purwakarta dan Cikampek. Perusahaan kereta api negara, Staats Spoorwegen mengoperasikan empat rangkaian kereta sehari untuk melayani jalur yang padat peminat itu," tulis tim ekspedisi jurnalistik Kompas, dalam Ekspedisi Anjer-Panaroekan: 200 Tahun Anjer-Panaroekan, Jalan (untuk) Perubahan (2008).

Meski fasilitas dan infrastruktur dibangun Belanda, nyatanya, semua dilakukan demi kemakmuran kolonial. Sementara pribumi, selain serba dilarang memanfaatkan hasil pembangunan, juga menjadi korban ambisi untuk mewujudkan akses-akses transportasi itu.

Penduduk pribumi kala itu, masih asyik dengan kendaraan pedati sapi, andong kuda, delman, bahkan berjalan kaki. Dari Batavia ke Cirebon, Jawa Barat saja, harus ditempuh berhari-hari.

Maka, tak salah, jika tradisi mudik dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengenang jasa para pahlawan. Para pendahulu yang telah merebut dan berjuang, menjadikan masyarakat hari ini benar-benar merdeka dan setara selama di perjalanan.




(SBH)