Peringatan Nuzululquran

Alquran Menurut Soeharto

Sobih AW Adnan    •    05 Juni 2018 04:30 WIB
soeharto
Alquran Menurut Soeharto
ILUSTRASI: Lukisan Presiden Soeharto yang terbuat dari 10 ribu perangko/Foto: ANTARA/Rosa Panggabean

Jakarta: Presiden Soeharto, pemimpin kedua Republik Indonesia ini punya banyak peninggalan naskah pidato yang pernah dibacakan dalam acara-acara resmi kenegaraan. Salah satunya, puluhan catatan yang sempat disampaikan dalam peringatan Nuzululquran di sepanjang pemerintahan Orde Baru (Orba) memerintah.

Pun pada 9 Agustus 1979, Soeharto berpidato di depan ratusan jemaah di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dari beberapa pesan yang ia sampaikan ihwal Islam, Alquran, dan pembangunan, teks pidato berjumlah 12 lembar ini boleh dibilang paling menarik dan cukup layak menjadi permenungan.

Kurang lebih Presiden Soeharto bilang, Alquran, tidak melulu menyajikan tentang akhirat. Namun juga sangat menekankan pentingnya berkehidupan sosial yang baik di tengah masyarakat.

Amanat bekerja keras

Dalam pidatonya, Soeharto mengawali bahwa semangat memperingati Nuzululquran pada setiap 17 Ramadan adalah meneladani perjuangan Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan ajaran Islam. Sementara, Soeharto menyebut Alquran sebagai tonggak sejarah.

Menurut dia, kala Alquran diturunkan, masyarakat Arab setempat tidak serta-merta menerima dan mengimani apa yang telah disampaikan Nabi. Sebagai utusan Allah, di sanalah Muhammad mulai mendapatkan tantangan dan rintangan. Rasulullah, kata Soeharto, mengajarkan bagaimana caranya bersabar.

"Diperlukan perjuangan, pengorbanan, dan waktu. Diperlukan kegigihan, ketabahan dan keluwesan," kata Soeharto.

Soeharto sangat meyakinkan bahwa Alquran tidak cuma menggambarkan tentang kehidupan di akhirat. Malah sebaliknya, ada banyak semangat keduniaan yang perlu dihayati masyarakat.

"Sesungguhnya amat jelas bahwa Alquran mengajarkan dan menekankan kepada kita untuk tidak melupakan segi-segi keduniawian dari kehidupan kita. Alquran mengajarkan kepada kita untuk membangun lingkungan kita sebaik-baiknya, untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat kita."

Alquran mengajarkan masyarakat Islam mengenai dasar-dasar ketuhanan dan ibadah, sekaligus memuat panduan berperilaku dalam kehidupan dunia. Oleh karena itu, kata Soeharto, sebagai umat beragama, kaum muslimin sudah mempunyai dua modal, yakni modal budaya dan ruhani.

"Agama kita sangat mementingkan kerja, bahkan bukan sekadar kerja akan tetapi kerja keras."

Agama bukan penghambat

Pada kesempatan yang sama, Presiden Soeharto juga menceritakan pesan keberimbangan dalam beragama. Jika seorang muslim berat di salah satu sisinya saja, khawatir, agama salah diterjemahkan menjadi batu sandungan.

"Kita ditantang untuk membuktikan bahwa keberagamaan kita bukanlah penghambat melainkan justru pendorong bagi kemajuan bangsa," kata Soeharto.

Baca: Soekarno Bicara Alquran

Presiden berjuluk Bapak Pembangunan itu mengatakan, bahwa saat itu sudah tidak ada yang kurang dalam kegiatan syiar keagamaan. Namun, ia juga memberikan kritik atas masih adanya kelemahan dalam penghayatan keagamaan dari sudut pandang sosial.

Soeharto menyebut, betapa banyak masjid yang sudah tidak mampu menampung jemaah melaksanakan ibadah. Begitu juga, perayaan hari-hari besar agama yang diperingati dengan begitu semaraknya. Hanya saja, semangat perluasan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan perlu satu langkah peningkatan.

"Saya rasa nilai dan makna keberagamaan tidaklah terletak pada kesemarakan syiar itu sendiri. Ia terletak justru pada penghayatan kita, pada sikap dan tingkah laku kita sebagai manusia beragama," kata Soeharto.

Pada bagian penutup, Presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu mengajak masyarakat Indonesia agar tidak hanya menjadikan masjid sebagai rumah ibadah, akan tetapi bisa pula dimanfaatkan sebagai wadah dalam ikhtiar mensejahterakan masyarakat sekitarnya.


(SBH)