Ramadan dan Kisah Pencari Suaka di Eropa

Meilikhah    •    14 Juni 2016 10:24 WIB
ramadan 2016
Ramadan dan Kisah Pencari Suaka di Eropa
Sejumlah migran tengah salat di salah satu tempat penampungan di Schisto, Athena. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Jerman: Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman, menghabiskan waktu berbuka puasa dengan beragam macam makanan. Tapi tak demikian dengan ratusan ribu migran yang datang ke Eropa, terutama Muslim yang melarikan diri dari perang, konflik, dan kemiskinan di Suriah, Afganistan, dan Irak. 

Di Jerman, sebagian besar mereka tinggal di penampungan dan telah lama mengeluhkan makanan yang disajikan oleh katering yang dikontrak pemerintah setempat. Terlebih saat Ramadan, makanan yang diberikan sangat terbatas.

Salah satu keluarga migran di Jerman adalah Khairallah Swaid. Dalam momen Ramadan, dia berdoa agar dipertemukan dengan istrinya yang terdampar di sebuah kamp di Yunani dan merindukan makloubeh, hidangan nasi dan daging buatan ibunya. 

"Anda tak bisa menikmati Ramadan tanpa makanan yang baik," katanya, di sebuah distrik miskin Berlin bersama sebagian besar migran lainnya, melansir Al Arabiya, Selasa (14/6/2016).

Swaid yang tinggal di sebuah penampungan di utara ibukota Jerman menghabiskan sekitar 120 euro hanya untuk makanan selama sebulan. Dia dan pencari suaka lainnya biasanya menghabiskan uang untuk membeli roti, beras, dan sayuran yang hanya dimasak menggunakan ketel. 

Banyak tempat penampungan migran dan pencari suaka di Berlin. Salah satunya di Tempelhof, bekas bandara yang dibangun Hitler untuk menunjukan kekuasaan Nazi, kini menjadi rumah bagi sekitar 5000 migran.

Magnus Falk, manajer kamp mengakui bahwa makanan untuk para migran memang jauh dari layak meskipun setiap waktu berbuka pihaknya menyediakan kurma dan air. Para migran hanya mendapatkan roti dengan sosis, yogurt, keju, dan selai untuk sahur.

"Mereka tidak puas dengan isi menu sahur," kata Magnus. 

Kondisi Kamp Yunani
Di kamp Yunani, banyak pendatang Muslim yang terdampar. Mereka merasakan panas terik dan kondisi yang memprihatinkan di kam-kamp yang dikelola negara. Hal itu membuat mereka kesulitan menjalankan ibadah. 

Mahdieh, salah satu migran asal Afganistan yang tinggal di Schisto, sebuah kamp tenda yang dikelola negara di bekas pangkalan militer dekat Athena mengatakan, tenda kamp terlalu panas dan anak-anak mengalami masalah kesehatan seperti muntah dan diare karena kamp sangat kotor dan panas.

"Kami stres dan depresi. Kami lelah dan tidak mengerti mengapa kami bisa tinggal di sini," katanya. 

Dia mengaku semua migran maupun pencari suaka yang lari dari negaranya dan memilih tinggal di pengungsian pasti merindukan rumah mereka yang tentunya hangat, dan penuh dengan makanan enak saat Ramadan. Mereka berharap bisa kembali ke negaranya.


(MEL)