Jiping di Negeri 1001 Lorong

   •    16 Juni 2017 17:09 WIB
dompet dhuafa
<i>Jiping</I> di Negeri 1001 Lorong
Kegiatan pengajian di Makau/Dompet Dhuafa/Muhandis Azzuhri

Muhandis Azzuhri, Kepala Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Pekalongan, Jawa Tengah dan Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Makau.

PERBEDAAN waktu Indonesia dan Makau hanya satu jam. Khususnya dengan waktu Indonesia Barat (WIB), meski dengan waktu Indonesia Tengah (WITA) keduanya nyaris tak ada beda. 

Durasi waktu siang di Makau lebih panjang dibanding Indonesia. Makau, mulai masuk waktu Subuh pukul 04.15 pagi dan mulai masuk waktu Magrib pukul 19.07 sore. Artinya, waktu berpuasa Ramadan di Makau berdurasi 15 jam. Terlebih, Makau pada bulan Juni ini berada di puncak musim panas sehingga waktu siangnnya akan lebih panjang ketimbang malam hari.

Suasana Ramadan di negara minoritas muslim seperti Makau tentunya berbeda dengan Indonesia dan Mesir. Di Indonesia, suasana Ramadan tentu akan sangat semarak di masjid-masjid, musala-musala, bahkan layar televisi banyak menyuguhkan aneka bentuk pengajian menjelang waktu berbuka puasa dan menjelang imsak.

Di Mesir, tempat penulis menimba ilmu di Universitas Al-Azhar selama 6 tahun, suasana Ramadan begitu semarak tidak hanya di masjid, tapi di toko dan warung-warung. Di tempat itu, baik yang besar maupun yang kecil menyediakan Maidatur Rahman, semacam hidangan berbuka puasa sederhana seperti air putih dan beberapa biji kurma, sampai makanan berat, seperti nasi, roti, sayur, daging sapi dan daging unta, aneka jus dan lain sebagainya. Bahkan, di beberapa masjid dan yayasan sosial Mesir sudah banyak yang membagikan zakat mal bagi orang-orang fakir miskin, musafir, pelajar dan mahasiswa.

Semarak Ramadan di Makau cuma tampak di berbagai shelter (tempat penginapan) BMI (Buruh Migran Indonesia) yang tersebar di seantero Negeri Kasino itu. Di antaranya, ada yang aktif mengadakan kegiatan salat tarawih. Sebut saja, Shelter Majlis Taklim Indonesia Makau (Matim) yang didirikan Dompet Dhuafa, Shelter Mbak Yuli dengan anggota 20 orang, Shelter Al-Irsyad beranggota 10 orang, Shelter Himpunan Aktifis Muslimah Makau (Halimah) dengan anggota 15 orang, Shelter Arlan beranggota 18 anggota, Shelter Ibu Widya dengan anggota sebanyak 13 orang dan Shelter Mbak Boni beranggota sekitar 25 orang. 

Di sela-sela kesibukan mereka sebagai BMI di siang hari, mereka menyempatkan beribadah malam selama Ramadan. Maka, tak heran, jika mulai pelaksanaan salat Isya, salat tarawih dan witir dimulai pukul 23.00 malam. Hal ini karena menunggu waktu pulang kerja dari rumah majikan dan tempat mereka bekerja di saat siang.

Shelter-shelter ini, sebenarnya saling berdekatan meski ada juga yang cukup jauh. Untuk menuju ke shelter, mereka harus melalui lorong-lorong dan jalan kecil dengan jalan kaki. Mengingat nama-nama jalan di Makau menjadi sangat penting. 

Contoh, nama jalan atau gang Travessa, Avenida, Estrada dan Rua. Rua adalah jalan lebih kecil yang biasanya satu arah. Sementara Travessa adalah lorong yang hanya bisa dilalui sepeda motor, pejalan kaki, atau becak Makau. Jalanan Makau memang terbilang rumit, tak salah jika kota ini pun memiliki julukan kota 1001 lorong.

Kegiatan pengajian malam hari di Makau diawali dengan salat Isya, tarawih, witir dan taushiah kultum. Kemudian dilanjutkan tanya jawab hingga Subuh berjemaah. Metode yang diterapkan kebanyakan menggunakan Jiping alias ngaji kuping. Jemaah mendengarkan apa yang disampaikan ustaz disambung sesi tanya jawab agama. Pembahasan biasanya meliputi tema kehidupan rumah tangga, utang piutang, pernikahan, perceraian, warisan, pembagian nafkah, bunga bank, cara bertaubat, hingga permasalahan zakat, infak dan sedekah.

Menyampaikan pengajian di Makau tak ubahnya memberikan ceramah di kalangan ibu-ibu di kampung atau di komplek perumahan. Atau, semisal menghadiri pengajian Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) atau ibu-ibu Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah di Muhammadiyah. 

Materi pengajian harus sederhana. Perlu juga sedikit bumbu humor segar agar mereka bisa turut tersenyum dan tertawa. Meski dengan syarat, tidak lepas dari substansi materi yang disampaikan.

Joke-joke cuma bertujuan agar jemaah tidak bosan dan mengantuk. Ini bahkan sangat penting, karena jemaah terdiri dari orang-orang yang waktu siangnya habis untuk bekerja dengan kondisi yang cukup lelah. 

Alhamdulillah. Ada rasa syukur dalam hati ketika melihat BMI yang semuanya perempuan itu begitu rajin beribadah di bulan Ramadan. Khususnya, Qiyamu Ramadhan. Di tengah rasa lelah dan kesibukan yang luar biasa, mereka masih bersedia meluangkan waktu untuk sekadar Jiping.


(SBH)