Cerita Berpuasa 18 Jam dan Rayakan Lebaran di Jerman

Annisa ayu artanti    •    07 Juni 2018 12:00 WIB
Ramadan 2018
Cerita Berpuasa 18 Jam dan Rayakan Lebaran di Jerman
WNI di Jerman harus melalui puasa 18 jam. (FOTO: Istimewa)

Jerman: Momen puasa dan Lebaran terasa sangat berbeda jika tidak berada di kampung halaman. Kerinduan akan suasana di Tanah Air pun kerap menyeruak saat Ramadan dan Lebaran. Hal itu lah yang kerap dirasakan oleh dua mahasiswi Indonesia yang berada di Jerman, Karlina Denistia dan Novindi Dwi Ratnawati.

Berbagi cerita dengan tim Medcom.id, Karlina saat ini menempuh studi S3 Linguistik di Eberhard Karls Universitaet Tuebingen, Jerman. Dia bercerita mengenai puasa di salah satu negara dengan durasi terpanjang. Umat muslim di Jerman harus tahan berpuasa selama kurang lebih 18 jam.

Karlina mengatakan ia sangat rindu momen puasa di Tanah Air yang memiliki tradisi tersendiri, mulai dari suara adzan penanda waktu salat hingga cara masyarakat yang membangunkan sahur dan imsak. Namun, menurutnya, dengan tidak adanya teriakan sahur dan imsak menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa Jerman untuk lebih disiplin waktu.


Momentum berbuka puasa di Jerman. (FOTO: Istimewa)

"Jalani puasa di Jerman itu tantangannya lebih ke diri sendiri. Tidak ada yang mengajak ke masjid untuk salat tarawih, tidak ada yang bangunkan sahur, tidak ada suara azan sama orang teriak-orang bilang imsak. Jadi semuanya benar-benar kontrol diri dan disiplin," tutur Karlina.

Untuk salat tarawih, Karlina dan Novindi biasanya melakukan di rumah. Sementara untuk menu berbuka pun seadanya karena tidak ada makanan khas di Jerman selama Ramadan.

Novindi menambahkan, ketika berbuka puasa di masjid biasanya disediakan kurma dan air putih. Ada beberapa masjid yang juga menyediakan makanan besar. Mereka biasanya makan setelah selesai salat.

"Masjid-masjid menyediakan buka bersama setiap Ramadan. Buka pertama biasanya dengan kurma dan air putih," ucap Novindi yang saat ini studi S2 Teknik Kimia di Karlsruhe Institute for Technology.



Oleh karenanya mereka mengungkapkan banyak masakan Indonesia yang sangat dirindukan. Novindi bilang ia merindukan dengan pempek, bakso, bakmi Jawa, dan tempe mendoan. Sementara Karlina bilang saat Ramadan ia rindu kolak.

"Kita kan minoritas. Kalau di Jerman ya makanan khas bakal kelar waktu natal. Kalau untuk sesuatu yang khas, selama dua tahun aku di sini, belum ada kepikiran apapun. Cuma memang kadang ibu-ibu di masjid membawa makanan khas dari negara mereka buat dibagi-bagi. Aku jadi rindu kolak," ungkap Karlina yang juga alumni S2 UGM.

Untuk Lebaran, lanjut Karlina dan Novindi, tahun ini keduanya tidak mudik ke Indonesia. Saat Lebaran biasanya mereka melakukan salat id di masjid-masjid terdekat. Setelah itu jika hari raya Idulfitri tidak jatuh pada hari libur biasanya umat muslim langsung melakukan kegiatan seperti hari biasa.


Tempat WNI berkumpul saat berbuka puasa. (FOTO: Istimewa)

"Di Jerman masyarakat muslim masih minoritas, jadi tidak ada libur saat Lebaran. Bila Lebaran di hari kerja, banyak yang setelah salat kembali ke tempat kerja. Kalau pelajar, ada yang setelah salat kembali ke kelas di universitas, atau malah ada yang setelah salat harus mengerjakan ujian," kata Novindi.

Setelah Lebaran, kata Karlina, saat akhir pekan biasanya perkumpulan muslim Indonesia di setiap kota di Jerman mengadakan acara halalbihalal. Saat itu lah yang ditunggu-tunggu karena bisa bertemu dengan saudara se-Tanah Air dan bisa mencicipi masakan khas Indonesia.

"Di weekend setelah Lebaran perkumpulan muslim Indonesia di tiap kota biasanya mengadakan acara halalbihalal. Makan bersama dengan makanan khas Indonesia," tutup Karlina.


(AHL)