Persiapan Nabi Sebelum Tempuh Perjalanan Jauh

Sobih AW Adnan    •    02 Juli 2016 05:24 WIB
tips mudik
Persiapan Nabi Sebelum Tempuh Perjalanan Jauh
Antrean kendaraan di Tol Pejagan ke arah pintu keluar Tol Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (1/7/2016)/ANTARA/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Jakarta: Jelang Lebaran tiba, mudik menjadi pilihan. Semangat bersilaturrahmi dan merayakan Idul Fitri di kampung halaman menjadi pendorong utama. Panas terik maupun hujan, juga lelah dan kantuk yang menyertai sepanjang puluhan bahkan ratusan kilometer jarak tempuh tak dianggap soal. Untuk menjalani momentum ini sudah barang tentu jangan sampai dilakukan tanpa persiapan. Persiapan matang mesti dilakukan mulai dari pengecekan fungsi dan fisik kendaraan, kesehatan badan, ketersediaan bekal, pantauan kondisi jalan, juga kesiapan mental.

Dari semua persiapan yang dilakukan, persiapan mental bukan perkara yang laik diabaikan. Persiapan ini di antaranya bisa dipupuk dengan membaca doa dan memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasulullah Muhammad SAW berpesan hendaknya membaca takbir atau kalimat Allahu Akbar sebanyak tiga kali ketika sudah berada di dalam kendaraan. Setelah itu, Nabi menyarankan membaca doa:

Subhana alladzi sakh-khara lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa inna ila rabbina lamun-qalibuun. Allahumma innaa nasaluka fii safarinaa hadza al birra wat taqwa wa minal amali ma tardha. Allahumma hawwin alainaa safaranaa hadza, wathwi anna budahu. Allahumma anta ash-shaahibu fi as-safar, wal khaliifatu fil ahli. Allahumma inni audzubika min watsaa-is safari wa ka-aabatil manzhari wa suu-il munqalabi fil maali wal ahli.

"Maha Suci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Tuhan kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau rdhai dalam perjalanan ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga." (HR. Muslim).

Selain membaca doa dan zikir, berikut adalah persiapan yang patut dijadikan rujukan karena menjadi kebiasaan Rasulullah sebelum menempuh sebuah perjalanan:

Mencari teman seperjalanan

Rasulullah tidak menyarankan bagi umat Muslim menempuh perjalanan sendirian. Disunahkan bergabung dalam rombongan atau bersama kawan yang serarah tujuan agar bisa mempererat silaturrahmi. Selain itu, hikmah di balik anjuran Nabi ini mengandung pentingnya menjamin keselamatan diri selama bepergian. Harapannya satu sama lain dalam rombongan bisa saling melindungi dan memberikan manfaat lainnya. 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Satu penunggang kuda adalah setan, dua penunggang kuda adalah setan, dan tiga orang adalah rombongan (memberi keselamatan)." (HR. At-Tirmidzi).

Dalam Biharul Anwar dikatakan bahwa Nabi pernah bersabda, "Maukah kalian aku beri tahu tentang manusia yang paling buruk?" Orang-orang menjawab, “Ya, wahai Rasulullah." Lalu Nabi berkata, "Orang yang bepergian sendirian dan orang yang tidak mau menolong temannya, serta orang yang memukul hamba sahayanya."

Rasulullah juga mengatakan, "Pilihlah teman, baru kemudian tempuhlah perjalanan."

Menyiapkan bekal

Sahabat Abu Bakar As-Shidiq selalu menyiapkan perbekalan ketika Rasulullah Muhammad SAW hendak bepergian. Bekal, menjadi barang penting guna menjadikan perjalanan yang ditempuh menjadi lancar, aman, dan tidak menyengsarakan.

Dalam sebuah hadits yang diceritakannya, Ubaid ibn Ismail berkata, "Aku menyiapkan bekal perjalanan Rasulullah di rumah Abu Bakar ketika Nabi hendak melakukan hijrah ke Madinah. Kami tak mendapatkan kain untuk mengikat bekal makanan dan minum Rasul. Lalu aku berkata kepada Abu Bakar, "Demi Allah, aku tak mendapatkan sesuatu untuk mengikat perbekalan kecuali kain ikat pinggangku". Kemudian Abu Bakar berkata, "Kalau begitu kamu potong dua kain ikat pinggangmu itu. Sepotong kamu gunakan untuk mengikat (wadah) air dan potongan lainnya untuk mengikat bekal makanan. (HR. Bukhari).

Ketika dikaitkan dengan konteks mudik sekarang ini, boleh jadi bekal yang dimaksud mencakup alat penunjuk jalan semacam peta atau aplikasi yang dapat mengarahkan rute perjalanan, obat untuk pertolongan pertama, atau hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi lainnya.

Sedekah

Keselamatan menjadi harapan bagi setiap pengendara. Selain kesiapan secara fisik dan doa, salah satu yang dianggap Nabi dapat mencegah sebuah musibah adalah sedekah. Dalam hadits riwayat At-Thabarani, Nabi bersabda, "Sedekah itu menolak bala (bencana)." Sementara dalam riwayat lainnya Rasul berkata "Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan."

Sedekah sebelum mudik bisa dilakukan untuk orang-orang di sekitar yang tidak memiliki kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Sedekah juga bisa dikemas dalam bentuk menyampaikan titipan salam atau barang untuk diantarkan ke tujuan yang searah dalam perjalanan.

Menyiapkan oleh-oleh

Serupa dengan sedekah, menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman juga menjadi penting. Umar ibn Khathab pernah meminta izin kepada Nabi untuk menunaikan umrah, maka Rasulullah berkata, “Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doa-doamu dan jangan lupakan kami.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Begitu juga sebaliknya, saat Nabi berpamitan kepada para sahabat untuk menempuh perjalanan, beliau bersabda, "Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatanmu yang terakhir kepada Allah." (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, Nabi pernah mengingatkan para sahabat untuk saling memberi hadiah sebagai sarana menguatkan rasa cinta di antara mereka. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Baihaqi).

Selain hal-hal di atas, masih banyak kebiasaan baik yang kerap dilakukan Nabi dalam rangka menyiapkan diri sebelum bepergian. Di antaranya adalah mendirikan salat dua rakaat sebelum meninggalkan rumah.

Nabi bersabda, "Tidak ada amalan yang lebih utama ketika keluar rumah kecuali salat dua raka’at.". (HR Al-Hakim). Sahabat Anas juga menambahkan, setelah salat, dianjurkan membaca ayat Kursi dan surat Quraisy.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu Syarhul Muhadzzab menjelaskan dari kedua rakaat salat itu, pada rakaat pertama dianjurkan membaca surat Al-Kafirun, serta surat Al-Ikhlas pada raka’at berikutnya.


Sumber: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Biharul Anwar, dan Al-Majmu Syarhul Muhadzzab.


(SBH)