19 Jam Berpuasa di Polandia

Daviq Umar Al Faruq    •    03 Juni 2018 19:56 WIB
Ramadan 2018
19 Jam Berpuasa di Polandia
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbuka puasa bersama di Poznan, Polandia. Ist/Humas UMM

Polandia: Umat muslim di Indonesia bisa dibilang cukup beruntung dalam menjalani bulan Ramadan. Durasi berpuasa di Indonesia terbilang lebih singkat dibanding di beberapa negara Eropa.

Muslim diwajibkan berpuasa mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Sedangkan waktu terbit fajar dan terbenamnya matahari di setiap negara berbeda-beda.

Fenomena tersebut saat ini tengah dirasakan oleh Tata Budhi Prasetyo. Mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini pun berbagi kisahnya menjalani puasa di Poznan, Polandia.

Tata menceritakan perbedaan waktu puasa di Polandia hampir lima jam dengan waktu di Indonesia. Apalagi di Polandia saat ini tengah memasuki musim panas.

"Alhamdulillah dengan banyak halangan dan rintangan bisa menjalani puasa hampir dua minggu ini," katanya saat dihubungi, Minggu, 3 Juni 2018.

Selama hampir empat bulan berada di Polandia, Tata mengaku sudah mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa di negara dengan empat musim tersebut. Meski begitu, ia tetap kewalahan mengatur waktu istirahat dengan waktu santap sahurnya.

"Dulu saya sudah pernah mencoba berpuasa di Singapura.  Tapi puasa disana enggak sesulit disini bagaimana mengatur waktu tidur sama sahur," tuturnya.

Waktu malam tak panjang

Mahasiswa asal Malang ini menambahkan bahwa umat Islam yang berada di Polandia hanya memiliki waktu enam jam untuk berbuka, sholat tarawih, istirahat, dan sahur.

"Lumayan berat atur waktu berbuka dan sholat tarawihnya soalnya singkat banget waktunya," ucapnya.

Terutama saat mendekati musim panas, waktu siang di negara tersebut pun menjadi semakin panjang, yakni sekitar 19 jam. Untuk menghabiskan waktunya disaat berpuasa, Tata mengaku sering berada di area perpustakaan kampus untuk mencari udara dingin.

"Paling gak produktif itu awal-awal tiga empat hari puasa, kerjaanku cuma diam di perpustakaan cari angin dingin dari AC," ceritanya.

Cari aktivitas

Meski begitu, fenomena ini tidak menyurutkan semangatnya untuk beribadah. Bahkan Tata bersama teman-temannya yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Poznan menggelar acara buka bersama warga Poznan.

"Ini biar enggak mager (malas gerak) terus dan semangat puasa akhirnya buat bazar makanan khas Indonesia untuk dinikmati bersama warga Poznan saat waktu buka puasa," jelasnya.

Sementara itu, pengalaman serupa juga dirasakan oleh dua mahasiswa UMM lainnya. Mereka adalah Elisa Kusno dan Rosida Dewi Faizatul. Keduanya mengaku memiliki kisah unik saat berpuasa di luar negeri.

Elisa Kusno mengaku mendapatkan perhatian lebih dari teman-teman asrama dan kelasnya. Bahkan, ia juga kerap kali mendapatkan berbagai pertanyaan soal puasa dari teman-temannya di Polandia.

"Mereka jadi lebih perhatian gitu ke aku, tiap menit aku jawab pertanyaan mereka tentang kondisiku yang masih sehat atau nggak karena puasa," terang mahasiswa  Ilmu Teknologi Pangan (ITP) ini.

Sedangkan, Rosida Dewi Faizatul mengaku berpuasa di negeri Eropa memiliki kesan tersendiri. Pasalnya, dia harus melupakan jauh-jauh agenda buka bersama dengan teman-teman di negara asalnya.

"Sedih banget waktu lihat grup kelas mengagendakan buka bersama tapi aku harus absen. Untungnya di sini suasana kekeluargaanya sangat terasa," pungkasnya.


(SUR)