Memahami Persatuan Bangsa di Masjid Jami Angke

   •    01 Juni 2018 02:28 WIB
Ramadan 2018
Memahami Persatuan Bangsa di Masjid Jami Angke
Masjid Jami Angke atau yang dikenal sebagai Masjid Al-Anwar merupakan simbol persatuan dan kesatuan bangsa. Foto: Medcom.id/Muhammad Reysa

Jakarta: Sore itu, Abiyan masih nampak sibuk membersihkan selasar masjid. Sebagai salah satu pengurus masjid yang juga keturunan kedelapan pemilik awal tanah itu mengaku aktivitas yang ia lakukan semata-mata untuk merawat masjid yang memiliki luas bangunan 15x15 meter persegi ini. 

Ia meyakini Masjid Jami Angke atau yang dikenal sebagai Masjid Al-Anwar merupakan simbol persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini bisa terlihat dari arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan dari berbagai budaya.

"Masjid Jami Angke memiliki keunikan dari segi arsitekturnya karena mengadopsi beberapa seni arsitektur," ungkap Abiyan kepada Medcom.id, Kamis, 31 Mei 2018.

Pria yang memiliki nama lengkap Muhammad Abiyan Abdillah itu mengatakan, arsitektur masjid yang terletak di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini campuran dari berbagai budaya; Tionghoa, Arab, Eropa, dan Bali. Penyampuran budaya ini disebut sebagai cerminan kerukunan di Indonesia. 

"Ini menggambarkan komunitas masyarakat yang hidup pada abad ke 17. Kerukunan itu lah yang dicerminkan pada bangunan ini." ungkapnya.

Baca: Menyusuri Masjid Peradaban Arab Kuno di Barat Jakarta

Masjid Jami Angke dibangun sejak tahun 1751 oleh seorang wanita bernama Tan Nio dengan arsiteknya Syeh Liong Tan. Sekilas, bangunan masjid ini menyerupai klenteng dengan bangunan bujur sangkar serta atap yang bersusun dua dipadu dengan unsur budaya jawa dari model atap rumah limasan (rumah tradisional jawa). 

Ujung-ujung atapnya sedikit melengkung ke atas, mengacu pada gaya punggel rumah Bali. Di pucuk atap masjid terdapat mestapa yang seolah mengikat semua unsur budaya di bawahnya serta terdapat patung nanas sebagai simbol kerukunan dan persatuan. 



Pada pintu utama masjid perpaduan budaya Hindu bali dan Jawa begitu kental. Berbingkai kayu dengan ukiran bunga mencirikan budaya Hindu Bali sementara ukuran pintu yang lebar dan ukiran disamping bawahnya mencirikan aksen Jawa. 

Interior dalam masjidnya pun demikian. Sentuhan gaya Maroko terlihat pada tempat imam dan mimbar. Sementara, empat pilar penyangga bergaya seni Tionghoa campuran Eropa ini melambangkan empat sahabat Rasulullah SAW. 

Baca: Lentera Fanoos, Dekorasi Khas Ramadan Asal Mesir

Ciri Eropa bisa terlihat dari jendela masjid yang dibuat tanpa daun, hanya berjeruji kayu bubut. Jumlah jeruji jendela berjumlah10 dan 20 yang melambangkan malaikat serta sifat Allah SWT. 

"Jadi memang para pendiri masjid sudah menitipkan pesan dari bangunan masjid ini dengan filosofi yang ada. Di sini tercipta kerukunan yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Kami dan kita semua jaman sekarang harus bisa menjaganya," kata Abiyan. 

Hampir 90 persen bangunan yang ada di Masjid Jami Angke ini masih terjaga keasliannya. Perawatan dilakukan secara berkala, salah satunya dengan melakukan restorasi, sehingga bisa memperbaiki bentuk bangunan yang baru dengan bahan bahan yang sama.

Hadirnya masjid ini, tambah Abiyan, menjadu simbol kerukunan masyarakat sekitar. Ia berharap agar nilai-nilai dan filosofi dari bangunan masjid ini bisa meresap ke kehidupan bermasyarakat. 

"Dengan terciptanya kerukunan saat ini yang dahulu terjadi, harapannya sudah meresap ke masyarakat sekarang. Kita perlu persatuan dan kesatuan  itu, bukan mementingkan kelompok atau golongan," imbuhnya. 


(DMR)