Jejak Tionghoa Muslim di Batavia

Sri Utami    •    03 Juli 2017 09:34 WIB
ramadan 2017
Jejak Tionghoa Muslim di Batavia
Masjid Lautze di Jalan Lautze Raya, Pasar Baru, Jakarta. Masjid Muslim Tionghoa Indonesia pertama di Jakarta. Foto: MI/Angga Yuniar

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekilas bangunan yang terletak di antara Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Kebon Jeruk, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, itu tidak tampak seperti masjid.
 
Bukan kubah yang melingkupi bangunan bertembok putih dengan lis hijau itu, melainkan atap perisai atau limas dengan genteng cokelat.
 
Itulah Masjid Jami Kebon Jeruk yang berdiri di tengah gedung-gedung tinggi kawasan pecinan Jakarta Barat.
 
Tidak banyak yang berubah dari bangunan yang didirikan sejak 1786 oleh seorang Tionghoa muslim, Chai Tsien Hwu.
 
Menurut salah seorang pengurus masjid, Siti Aisyah, masjid tersebut masih terjaga keaslian bentuknya meski sudah dipugar beberpa kali oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
 
"Semua masih bangunan asli, tidak boleh ada yang mengubah sedikit pun. Kecuali cat dan lantai atau tembok yang rusak sedikit," tuturnya kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.
 
Dinding masjid dilapisi ubin berbahan marmer putih bergurat abu, sedangkan atap bagian dalam berbentuk limas segi empat berwarna hijau.
 
Di bagian pucuk atasnya terdapat kotak yang dihiasi dengan lukisan bintang dan bulan sabit. "Yang menjadi ciri khas atap masjid yang berbentuk limas yang melambangkan kebaikan akan terus naik ke atas," ujarnya.
 
Sejarah masjid itu, menurut Siti, tertuang dalam manuskrip berbahasa Inggris yang hingga kini masih dijaga dengan baik oleh keluarganya. "Tapi saya tidak bisa kasih lihat, aturannya begitu," katanya.
 
Walaupun begitu, Siti kemudian membuka kisah Chai Tsien Hwu yang melarikan diri dari Tiongkok bersama istrinya, Fatima Hwu, ke Batavia.
 
Sebagaimana banyak orang Tionghoa di era Dinasti Ming, Chai lari dari pemerintahan pada masa itu karena enggan hidup tertindas.
 
"Setelah melarikan diri ke sini, mereka membangun masjid ini. Pada awalnya hanya surau kecil yang tidak terawat. Mereka pun membangunnya bersama jemaah China muslim lain yang sudah ada di Batavia," jelasnya.
 
Tanah Kapitan
 
Chai Tsien Hwu tercatat berjasa karena mendirikan masjid bagi Tionghoa muslim pada masa itu. Tapi yang tak kalah berjasa ialah sang pemilik lahan tempat masjid itu berdiri.
 
Dalam Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta, Adolf Heuken menyebut Tamien Dossol Seng (1780-1797) ialah pemilik tanah itu. Dia seorang kapitan.
 
Komandan atau kapitan ialah jabatan yang diberikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kepada kepala kampung atau warga dengan kelompok adat istiadat tertentu di Batavia.
 
J Leonard Blusse, seorang peneliti dari Leiden University, dalam buku Shiba shiji-mo Badaweiya Tangrenshihui (The Chinese Community of Batavia at the End of the Eighteenth Century) mengungkapkan bahwa bangsa Tang yang meninggalkan Tiongkok pada era Dinasti Qing (1736-1795) menetap di Batavia dan sudah memiliki sistem kapitan.
 
Dalam buku terbitan Xiamen University Press pada 2002 yang ditulisnya bersama Wu Fengbin itu, kisah kaum Tionghoa di Batavia terungkap dari catatan Kepala Sekolah Akademi Nankai di Tiongkok bernama Yang Ben pada 1775.
 
Menurut Yang, bangsa Tang yang datang ke Batavia selama ratusan tahun sejak era Dinasti Ming (1572-1620), sudah mengenal sistem kapitan pada tahun ke-40.
 
Dia menuliskan, seorang kapitan yang kebanyakan dari suku Fujian bertugas menjaga komunitas Tionghoa di Batavia agar tak tersentuh oleh pengaruh luar.
 
Sebutan kapitan atau komandan diatur oleh VOC pada masa gubernur Jan Pieterszoon Coen (1587-1629) melalui sistem Inlandsche Kommandanten.
 
Dalam buku Jakarta Batavia: Esai Sosio Kultural karya Kees Grijns, Mona Lohanda menyebutkan Kommandant der parnakkans Chineezen ialah jabatan bagi pemimpin Tionghoa peranakan yang biasanya muslim.
 
Jabatan itu diteruskan turun-temurun dalam satu keluarga. Untuk golongan peranakan Tionghoa (parnakkans Chineezen), kapitan pertama dipegang Kapiten Dossol.
 
Keluarga Dossol terkenal sebagai keluarga yang dipandang dalam komunitas muslim Tionghoa.
 
Jabatan kapitan lalu diteruskan kepada anaknya, Tamien Dossol. Dialah pemilik lahan yang kemudian menghibahkannya untuk dibangun sebagai Masjid Jami Kebon Jeruk.
 
Jabatan kapitan di keluarga Dossol sempat dihapuskan pada era Alimoeddin, anak Tamien Dossol, pada 1828 karena saat itu ada penataan ulang sistem oleh VOC.
 
Barulah anak Alimoeddin, Aijoeb, kembali ditunjuk sebagai kapitan distrik ke-4 dan ke-5 pada 1862.
 
Kehidupan golongan peranakan Tionghoa yang menjadi muslim karena perkawinan juga dikisahkan Dahai Wang dalam bukunya, Haidao Yizhi Zhailue, pada 1830.
 
"Di antara zhonghuaren (Tionghoa) ada sejumlah orang dalam beberapa generasi yang tidak pernah kembali ke Tiongkok. Mereka mempraktikkan syariat agama suci (Islam), berbicara bahasa asing, makan makanan asing, tapi tidak suka disebut Jaoya (Jawa). Mereka menyebut diri mereka muslim (Xinan). Tapi mereka tidak berbeda dengan orang Jawa,".
 
Dari golongan-golongan tersebut, lahirlah masjid-masjid bercorak Tiong-hoa di Batavia yang beberapa di antaranya masih berdiri hingga kini.
 
Selain Masjid Jami Kebon Jeruk, masih ada juga Masjid Luar Batang di Penjaringan, Jakarta Utara; Masjid Jami Al-Anwar Angke di Tambora, Jakarta Barat; dan Masjid Langgar Tinggi di Pekojan, Jakarta Utara.


(FZN)