Kelenteng Jin De Yuan, Merajut Kebinekaan di Bulan Ramadan

   •    02 Juni 2018 17:24 WIB
Ramadan 2018
Kelenteng Jin De Yuan, Merajut Kebinekaan di Bulan Ramadan
Umat Buddha di Kelenteng Jin De Yuan menyiapkan takjil - foto: Muhammad Reysa.

Jakarta: Suasana penuh rasa kebersamaan begitu terasa di Kelenteng Jin De Yuan atau Dharma Bakti, Jakarta Barat sore ini. Puluhan umat Buddha dengan sukarela mempersiapkan takjil berupa teh manis, es timun suri dan nasi kuning.

Takjil ini nantinya bakal dibagikan pada kurang lebih 300 umat muslim yang bermukim di sekitar kelenteng. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak hari kedua puasa.

"Saya sangat bersuka cita, karena relawan-relawan ini adalah relawan luar biasa. Membantu acara buka puasa bersama yang pertama kali dilakukan di kelenteng ini," kata Yusuf Hamka saat berbincang dengan Medcom.id, Sabtu, 2 Juni 2018.

Yusuf Hamka adalah seorang tokoh muslim tionghoa Indonesia yang menginisiasi kegiatan buka bersama ini. Dari prinsip saling berbagilah, kemudian, Ia menginspirasi banyak kelenteng untuk melaksanakan acara serupa di bulan Ramadan. 

Salah satunya kegiatan buka puasa di Kelenteng Jin De Yuan ini. Yayasan Vihara Kim Tet Ie bekerja sama dengan Muslim Tionghoa Indonesia dan Laskar Pembela Islam menggelar acara buka puasa bersama sejak tanggal 17 Mei 2018 hingga 8 Juni 2018 mendatang. 

Yusuf bilang, setidaknya ada dua pesan penting yang ingin disampaikan pada kegiatan ini. Pertama, nilai berbagi kepada sesama manusia tanpa mengenal suku, agama dan ras (SARA).  


Umat Buddha di Kelenteng Jin De Yuan menyiapkan takjil - foto: Muhammad Reysa.

Ia berharap momentum bulan penuh berkah ini tidak hanya dirasakan oleh umat muslim saja tetapi juga bagi umat Buddha. 

"Pintu surga lagi dibuka di bulan Ramadan. ayo kamu (umat Buddha) bisa ambil pahala, karena dalam Islam berkata, siapa pun yang melayani orang yang berbuka puasa dapat pahala yang sama. Apalagi yang memberikan makan," tutur dia. 

Kedua, toleransi antarpemeluk agama. Ia menyatakan, nilai inilah yang tercermin selama kegiatan berlangsung.

"Ini satu bentuk kegiatan toleransi yang mengikat kebinekaan. Kebinekaan di sini luar biasa. Teman-teman Buddha bisa melayani umat muslim yang berpuasa," imbuh dia. 

Kegiatan buka bersama ini diharapkan bisa menginspirasi kelenteng lain untuk melakukan hal serupa. Selain untuk berbagi, kata Yusuf, kegiatan ini juga turut memberdayakan warung-warung kecil setempat.

"Mudah-mudahan teman-teman dari kelenteng lain bisa mengadopsi. Saya juga berpesan, beli lah dari warung setempat, karena warung setempat tidak akan mungkin bisa bersaing jika kita membeli dengan harga murah," tandas dia. 

(Muhammad Reysa) 



(REN)