Puasa Menurut Dawam Rahardjo

Sobih AW Adnan    •    31 Mei 2018 03:39 WIB
obituari
Puasa Menurut Dawam Rahardjo
M Dawam Rahardjo/Foto: Antara

Jakarta: Cendekiawan muslim M Dawam Rahardjo tutup usia. Ia meninggal dunia di usia ke-76, tepat di hari ke-14 Ramadan 1439 H atau Rabu, 30 Mei 2018.

Selama hidup, Dawam mengabdikan diri di bidang kajian keislaman, terutama pasal ekonomi syariah. Namun di luar itu, ia juga banyak menyumbang gagasan-gagasan keagamaan berbasis kritik sosial. Termasuk, mengenai Ramadan, waktu yang kini ditandai sebagai harinya berpulang.

Gagasan Dawam ihwal pemaknaan puasa, salah satunya, termaktub dalam kolom berjudul "Bulan Pencerahan" yang dimuat Kompas pada 23 Juli 2013. Dalam opini yang terdiri dari 1.210 kata itu, sosok kelahiran 20 April 1942 tersebut menyatakan bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi manusia yang tercerahkan.

"Sehingga bisa membimbing pada perilaku yang baik dan terhindar dari perilaku buruk yang merugikan manusia atau merusak alam," tulis Dawam.

Dawam mengaitkan potensi membangun dan merusak dalam diri manusia dengan hawa nafsu. Tidak cuma mengambil rujukan dari Alquran dan hadis, ia juga menyitir banyak teori tentang id, ego, dan superego, sebagaimana masyhur dalam bidang psikoanalisis.

Pengendalian diri

Pertama-tama, Dawam mengutip teori pakar psikoanalisis berkebangsaan Austria, Sigmund Freud yang berpendapat bahwa kepribadian manusia terdiri atas tiga komponen. Namun yang menggoda Dawam, rupanya ada pada bagian yang disebut id.

Dawam menjelaskan pendapat Freud, bahwa id merupakan bagian dari bawah sadar yang dikendalikan oleh kecenderungan atau dorongan naluriah untuk mempertahankan hidup dari segi jasmaniah. Bagian jiwa ini mengandung dilema. Di satu pihak, jika tidak dikendalikan, akan menimbulkan perilaku yang tidak menyelamatkan diri sendiri dan orang lain: keserakahan, agresi, dan nafsu seksual yang bebas.

Namun, apabila dikendalikan terlalu keras maka akan menimbulkan represi kejiwaan.

"Nafsu makan, umpamanya, perlu dipenuhi, tetapi juga perlu dikendalikan: jika tidak, akan menimbulkan penyakit. Namun, jika dilakukan terlalu kuat, akan menimbulkan kekurangan atau ketimpangan gizi. Karena itu, perlu dikendalikan secara seimbang melalui pola gizi yang seimbang (al mizan)," tulis Dawam.

Pengendalian id mula-mula dilakukan melalui penanaman nilai-nilai luhur orangtua, guru, atau adat-istiadat masyarakat yang membentuk yang disebut superego. Namun, sering kali superego itu dibentuk dengan cara yang terlalu keras, misalnya dengan jargon-jargon agama yang lebih fokus pada ancaman-ancaman atau adat yang mengandung sanksi sosial.

Alhasil, menurut Dawam, superego lebih merupakan represi sehingga memungkinkan berujung pada sakit kejiwaan, neurosis.

"Seorang yang fanatik dalam beragama justru tidak menutup kemungkinan melakukan tindakan kekerasan," simpul dia.

Sebaliknya, dalam opini tersebut, Dawam juga mengkritik pakar teori sosial Prusia Karl Heinrich Marx. Ihwal pendapat Marx yang mengatakan agama adalah candu, atau sebuah keyakinan yang menciptakan kesadaran semu, hal itu dibilang sekadar tren pemikiran Eropa masa pencerahan yang pada dasarnya melulu memuat sentimen antiagama.

Di sini, Dawam sangat meyakini, bahwa perintah-perintah dalam agama, seperti kewajiban puasa selama Ramadan mempunyai pengaruh dalam pembentukan jati diri manusia menjadi lebih baik. Dawam mengibaratkan puasa sebagai proyek.

"Proyek membentuk status jiwa yang takwa, jiwa yang tercerahkan," kata dia.

Antikekerasan

Lebih jauh lagi, Dawam juga memaknai Ramadan sebagai bulan bagi manusia untuk menempa diri menuju tatanan masyarakat yang arif dan budiman. Berawal dari pengendalian diri, lantas meningkat pada pemaknaan perintah agama sebagai sebuah gagasan sosial.

"Puasa sebagaimana banyak dijelaskan dalam Alquran adalah suatu perjuangan besar mengendalikan diri. Iklim itu diciptakan melalui berpuasa meningkatkan hubungan silaturahim."

Atas pengertian itu, dia mengkritik sebagian pemahaman yang malah menjadikan agama sebagai bahan legitimasi untuk sebabak pemaksaan, apalagi kekerasan. Dawam mencontohkan, seorang muslim sejatinya tak perlu memberikan seruan agar masyarakat keumuman menghormati bulan puasa. Imbauan semacam itu, cukup dikeluarkan oleh pemerintah, atau lebih menarik jika dilakukan oleh kelompok lain yang tidak sedang terkena kewajiban yang sama.


"Penghormatan itu seyogianya dilakukan sendiri oleh umat Islam terhadap bulan Ramadhan dengan cara menahan amarah dan bertindak ramah," tulis dia.

Maka, amat kontradiktif, ujar Dawam, jika semangat berpuasa justru menggiring beberapa kelompok untuk melakukan sweeping, pemaksaan, tekanan, terlebih tindak kekerasan untuk menutup warung makan dan restoran di siang hari. Dia berpendapat, inisiatif semacam itu termasuk melanggar hak orang lain yang sedang tak berpuasa.

"Berpuasa akan benar-benar jadi jihad akbar jika dilakukan dalam suasana terbuka walaupun dan justru karena penuh godaan itu," tutup Dawam.

Dawam, memang kerap dinilai sebagai sosok kontroversial. Namun yang jelas, gagasan dan buku-bukunya sudah banyak memberikan pencerahan. Selamat jalan, sang pemikir Islam.


(SBH)