Yang Diguyur Untung tanpa Pulang Kampung

Surya Perkasa    •    07 Juli 2016 09:48 WIB
lebaran 2016
Yang Diguyur Untung tanpa Pulang Kampung
Monas/MTVN/Nur Azizah

Metrotvnews.com, Jakarta: Hari raya Idul Fitri membuat sebagian besar perantau menjatuhkan pilihan untuk pulang ke kampung halaman. Mereka berbondong-bondong keluar dari Ibu Kota untuk pulang kampung sejak sepekan sebelum Lebaran. Tapi di antara sekian banyak yang memilih pulang, ada juga yang lebih kepincut untuk bertahan demi mengais lebihan untung yang tak diduga-duga dalam perkiraan.

Salah satunya seperti apa yang ditekadkan salah satu sopir taksi bernama Jumroni. Pria asal Purwokerto, Jawa Tengah ini enggan pulang demi menggaet untung di luar kebiasaan.

"Daripada pulang, mending kerja. Alhamdulillah, dapat banyak dari biasanya," kata Jumroni saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Rabu (6/7/2016).

Dari balik kemudi, Jumroni bercerita tentang ramainya orang-orang yang memakai jasanya sejak malam hingga dini hari. Terutama warga yang menggunakan pesawat udara untuk mudik di hari raya.

Setidaknya sudah empat kali Jumroni mondar-mandir mengantar penumpang ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tanggerang, Banten.

"Tek-tok. Ini baru dari Bandara (Soekarno Hatta)-Grogol, Tanjung Duren-Bandara, Bandara-Kemayoran, Kemayoran-Masjid Istiqlal. Sekarang Bandara lagi," ucap Jumroni sumringah.

Dia mengakui, taksi memang ketiban untung saat Lebaran datang. Sebab masih banyak saja warga yang mengejar pesawat menuju kampung halaman sebelum salat Hari Raya Idul Fitri, terlebih banyak dari moda transportasi massal lain banyak tak beroperasi.

Mangatur siasat, manfaatkan teknologi

Jumroni terus mencurahkan isi hatinya sembari mengendalikan laju kereta besi, terutama soal keberadaan taksi aplikasi.

"Memang sih, sejak taksi online (daring) ada. Semuanya ngomong pendapatan turun. Apalagi sejak banyak jumlah mobilnya (armada)," kata dia.

Tapi bukan berarti sopir taksi konvensional sekelas Jumroni melulu terdampak buruk. Guna menyiasati itu, dia juga mendaftarkan diri di salah satu aplikasi daring.

"Perusahaan saya juga memiliki aplikasi daring sendiri. Namun, aplikasinya masih dinilai terlalu ribet. Soalnya masuk ke sentral kantor dulu. Kalau ini (aplikasi pihak ketiga) lebih cepat dan reaponsif," kata dia.

Sebenarnya, kata Jumroni, perusahaan taksi yang harus bijak menghadapi taksi aplikasi. Mulai dari setoran sampai soal inovasi teknologi.

Tetap beribadah

Walau tak bersama keluarga di hari raya karena mencari tambahan uang, namun, kata Jumroni, bukan berarti hal itu mengesahkan semangat ibadahnya jadi terhenti.

"Ibadah harus tetap jalan. Salat tetap jalan," kata Jumroni tersenyum.

Tak hanya soal ibadah kepada Tuhan, ibadah ke sesama manusia dengan menjaga perbuatan baikpun tetap ia lakukan, semisal menolong ketika penumpang membutuhkan bantuan. 

Jumroni bercerita bahwa belum lama taksinya ditumpangi seorang kakek-kakek yang tengah tampak kebingungan. Dengan penuh ikhlas, Jumroni pun memutuskan tanpa meminta bayaran.

"Kakeknya kayak bingung. Enggak ada angkot (Anggkutan kota) sih. Ya saya tumpangi aja dari gambir sampai dekat tujuannya di Senen. Pas mau dikasih uang, saya tolak. Hitung-hitung menolong," kata Jumroni.

Adu cerita bersama bapak beranak tiga ini pun berlangsung hingga Bandara Soetta. Beragam kisah diceritakannya selama taksi melaju membelah gelapnya malam yang menanti fajar muncul.


(SBH)