Melepes-nya Pamor Petasan Lebaran

Sobih AW Adnan    •    15 Juni 2017 17:21 WIB
ramadan 2017
<i>Melepes</i>-nya Pamor Petasan Lebaran
Ilsutrasi: Penjual menjajakan petasan/ FOTO ANTARA/ Marifka Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiba di pengujung Ramadan bak berdiri persimpangan jalan. Bisa menggembirakan, sebab Lebaran disebut hari kemenangan. Tapi juga kegundahan, lantaran harus rela melepas sang bulan penuh ampunan.

Oleh Nabi Muhammad SAW sendiri, pada hari Idulfitri lebih disarankan menampakkan kegembiraan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bahkan Rasulullah membiarkan dua perempuan menyanyikan lagu-lagu Bu'ats di pagi Lebaran.

Ketika Abu Bakar mencegahnya, Nabi bersabda, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita."

Penyair sufi Jalaluddin Rumi, mengiaskan puasa dengan sosok Maryam. Sementara Lebaran, ia gambarkan sebagai Isa. Dalam ghazal-nya, Rumi bersyair, "Tak perlu bersedih. Meski dirimu kehilangan Maryam, cahaya Isa; datang mengitari."

Di Indonesia, selain kumandang takbir yang saling saut dari masjid dan musala, ada kebiasaan lain yang sedari dulu ada. Bebunyian mercon alias petasan pernah menjadi bagian dari tradisi masyarakat menyambut hari raya. Meski kini, sudah menjadi kenangan, terganjal aturan.

Meledak di Betawi

Petasan bukan barang baru. Di Indonesia, bubuk ledak itu sudah ada sejak zaman kerajaan. Sosok yang paling dikenal dalam riwayat pembuatan mercon adalah Kin San, Bupati Semarang yang menjabat pada 1478.

"Ia mempelajarinya dari sang ayah, Swan Liong yang pernah menjadi kepala pabrik mesiu di Semarang," tulis Benny G. Setiono, dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2003).

Etnis Tionghoa memang lebih dulu menggunakan mercon dalam perayaan-perayaan. Kemeriahan petasan dalam imlek, misalnya, lalu diadopsi untuk menjadi penyemarak malam Lebaran. 

"Imlek ada mercon, lebaran pun ada mercon. Tapi mercon lebaran adalah hasil hantaran dari para sobat, sedang mercon pada hari Imlek hasil rebutan, hasil keringat sendiri," tulis Muharyo, dalam Sepanjang Jalan Kenangan: Komedi Masyarakat (1988).

Sejarawan Alwi Shahab menceritakan, orang-orang Betawi mengenal dua jenis mercon, impor dan lokal. Petasan impor paling masyhur adalah yang didatangkan dari Jepang. Pada masa kolonial Belanda, petasan jenis ini banyak dijual di Glodok, Senen, Tanah Abang, dan Mester (Jatinegara).

Sementara petasan lokal, biasanya didatangkan dari Parung, Kabupaten Bogor. Di sana, ada perusahaan mercon milik keluarga yang dioperasikan secara turun temurun.

"Petasan Jepang, bukan saja harganya yang lebih mahal dari petasan Parung, tapi juga suaranya lebih keras dan nyaring," tulis sosok yang karib disapa Abah Alwi itu dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001).

Selain menjadi penyemarak malam Lebaran, petasan bahkan selalu ada di sepanjang Ramadan. Oleh orang-orang Betawi, benda dengan bunyi mengagetkan ini dijadikan alat membangunkan sahur di kampung-kampung.

Baca: Menelusuri Riwayat Tradisi Membangunkan Sahur

Petasan dan Soekarno 

Bunyi-bunyian mercon dalam menyambut Lebaran memang disuka orang-orang zaman dulu. Apalagi, bagi remaja dan anak-anak.

Termasuk, masa kanak-kanak Presiden pertama RI Soekarno. Dalam Bung Karno: Bapak Proklamasi Republik Indonesia (2003), S. Kusbiono menceritakan doa Soekarno kecil di malam ramai 'dar-der-dor' itu.

"Tuhan, ini tidak adil! Mengapa kawan-kawanku bisa membeli petasan, sedangkan aku tidak?" ucap Soekarno.

Tiba-tiba, Soekarno tertidur. Tak lama, ibunya membangunkan lantaran ada seorang paman yang hendak berjumpa dan membawakan hadiah. Betapa bahagianya calon pemimpin bangsa itu, sebab di tangannya kini ada bungkusan berisi petasan.

"Ya Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu dengan memberi kebahagiaan tak terkira ini..." kata Soekarno, dikutip Kusbiono.

Setelah berpuluh tahun berlalu, justru Presiden Soekarno sendiri yang merasa perlu membatasi penggunaan petasan di malam Lebaran. Alasan yang digunakan masih serupa dengan aturan yang pernah diterbitkan pemerintah kolonial Belanda, yakni demi keselamatan.

Di era Soekarno, lahir Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang bahan peledak. Dalam undang-undang ini sudah diatur soal bahan peledak yang menimbulkan ledakan dan dianggap mengganggu lingkungan masyarakat. 


Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa pembuat, penjual, penyimpan, dan pengangkut petasan bisa dikenai hukuman minimal 12 tahun penjara hingga maksimal kurungan seumur hidup.


Langkah itu, diadopsi pula oleh Presiden Soeharto meski dengan gaya sedikit berbeda. 

Dalam Sidang Kabinet Paripurna 12 Oktober 1971, Soeharto mengeluarkan serangkaian larangan dan instruksi khusus soal petasan. Tapi ada pengecualian, petasan jenis 'cabe rawit' dan 'lombok merah' masih diperbolehkan. Itu pun harus bikinan dalam negeri dengan alasan menghemat devisa negara.

Faktanya memang benar, merayakan malam Lebaran dengan petasan tak sedikit memakan korban. Bahkan, hingga meninggal dunia.

Untuk menghentikan kengerian ini, di zaman sekarang petasan total dilarang. Pedagang tak berani memajang terang-terangan. Sebab, penertiban dan razia bisa dilakukan polisi nyaris setiap hari.


(SBH)