Sekilas Asal-Usul Idul Fitri

Sobih AW Adnan    •    06 Juli 2016 04:59 WIB
lebaran 2016
Sekilas Asal-Usul Idul Fitri
Pelaksanaan salat Id di Masjid Istiqlal Jakarta pada 2015 lalu. MI/Atet Dwi Pramadia/fz

Metrotvnews.com, Jakarta: Idul Fitri telah tiba. Salah satu hari raya umat Islam selain Idul Adha ini pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Tepatnya, setelah pertempuran Badar yang meletup pada 17 Ramadan. 

Dalam Aun Al Ma'bud karangan Al Azhim Abadi dijelaskan, sebelum disyariatkan Idul Fitri dan Idul Adha masyarakat Arab telah mengenal dua hari raya dengan nama perayaan Nairuz dan Mahrajan. Hal ini diterangkan pula dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, bahwa Rasulullah bersabda:

"Aku datang kepada kalian sementara kalian telah memiliki dua hari raya yang menjadi ajang permainan di masa Jahiliyah. Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik. Yakni, Idul Adha dan Idul Fitri."

Syekh Abdurrahman Al-Banna dalam Al-Fath Al-Rabbani menyimpulkan perbedaan kedua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dengan dua perayaan warisan Persia kuno itu. Nairuz dan Mahrajan lebih ditetapkan berdasarkan pilihan seseorang yang sedang berkuasa, selalu berubah karena menyesuaikan zaman, serta diliputi dengan berbagai hal yang tidak kekal dan bertahan lama. Sebaliknya, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dihadirkan bersamaan dengan kewajiban ibadah puasa dan haji yang keduanya merupakan bagian dari rukun Islam.

Ihwal nama

Id dari bahasa Arab diucap Ied. Menurut kamus Lisan Al-Arab karya Jamaluddin Muhammad ibn Mukarram ibn Ali (Ibnu Manzur) dikatakan bahwa lafaz tersebut diambil dari bentuk 'Aada-ya'uudu dengan makna kembali. Bisa pula disimpulkan dengan makna perkumpulan, yakni kembalinya orang-orang untuk bertemu. 

Sementara dalam Tanwir Al Ainain karya Syeikh Abul Hasan Al Ma’ribi diterangkan asal mula kata Id adalah Al-Aaadah, yang bermakna kebiasaan. Di dalamnya disebutkan bahwa Ibn Arabi berkata, "Hari raya ini disebut Id karena pada hari itu selalu muncul di setiap tahun dengan membawa kegembiraan baru."

Untuk kata Fitri, ia diambil dari Fathara dengan makna membedah atau membelah. Hal ini bisa dihubungkan dengan perintah berbuka (ifthar) setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

"Inilah dua hari yang Rasulullah Muhammad SAW melarang puasa padanya, yaitu pada hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (Idul Fitri), dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan qurban (Idul Adha)." (HR. Bukhari).

Sementara dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdullah bin Amar berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Ibnu Majah).

Idul Fitri di masa Nabi

Banyak sumber menceritakan kesunahan yang dicontohkan Nabi di saat hari raya tiba. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Hakim disebutkan bahwa Nabi memerintahkan para sahabatnya agar mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki serta menyertakan diri dalam wewangian. Riwayat lain sebagaimana dikutip dalam As-Sunan Al-Kubra disebutkan bahwa Nabi di pagi Lebaran mengenakan ajmal tsiyabih (pakaian terbaik) berupa hibarah alias pakaian bercorak yang terbuat dari kain katun halus. (Sahih Muslim No. 3877).

Setelah berdandan rapi dan wangi, Rasulullah juga diceritakan lebih mendahulukan sarapan sebelum melaksanakan salat Idul Fitri. Sementara untuk Idul Adha lebih dipilih dengan mengakhirkannya. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Nabi terlebih dahulu memakan kurma kering dan dalam jumlah ganjil sebelum melaksanakan salat pada hari raya Idul Fitri.

Selain persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan salat, Nabi juga menganjurkan para sahabatnya untuk  berangkat dan pulang dengan jalan kaki melalui jalur yang berbeda.

"Nabi Muhammad SAW ketika hari raya berjalan dengan rute yang berbeda." (HR. Bukhari).

Ketika dalam  perjalanan pulang berjumpa dengan para sahabatnya, Nabi juga menyampaikan tahniah atau ucapan selamat hari raya dibarengi dengan berjabat tangan serta mengucapkan kalimat "Taqabbala Allah minna wa minka" (Semoga Allah menerima ibadah kita selama Ramadan), lantas ucapan itu pun dijawabi para sahabat dengan perkataan yang sama.

Sumber: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, As-Sunan Al-Kubra, Aun Al Ma'bud, Al-Fath Al-Rabbani, Tanwir Al Ainain, dan kamus Lisan Al-Arab.


(SBH)