Ziarah ke Makam Sahabat Rasulullah, Muadz bin Jabal

   •    27 Juni 2016 12:53 WIB
ramadan 2016
Ziarah ke Makam Sahabat Rasulullah, Muadz bin Jabal
Makam Muadz bin Jabal di Yordania. (Foto: Nico Adam)

Metrotvnews.com, Amman: Negeri Urdun (Yordania) kaya akan objek wisata sejarah keagamaan. Hal ini karena Yordania pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Negeri ini juga banyak menyimpan sejarah kenabian sebelum zaman Rasulullah dengan membawa agama Islam. 

Negara ini berada dalam jazirah Syam, termasuk negara Suriah dan Palestina, yang selama beberapa abad, Yordania merupakan saksi penting bagi jatuh bangunnya kejayaan Islam. Negara ini pernah menjadi saksi Perang Mu'tah pada masa Rasulullah SAW dan Perang Salib pada masa Dinasti Ayyubiyah.

Tak heran bila saat ini banyak ditemukan bukti-bukti sejarah tersebut, di antaranya makam para sahabat. Tidak sedikit sahabat yang mengembuskan napas terakhir di wilayah Yordania. Makamnya pun masih bertahan sampai sekarang dan dikunjungi banyak peziarah. 

Setelah mengunjungi Pohon Nabi pada awal Ramadhan di tengah gurun batu Al-Buqawiyah dekat perbatasan Irak dan Saudi, juga ziarah ke Gua Ashabul Kahfi di pinggiran kota Amman, maka dalam perjalanan ngabuburit pekan ketiga Ramadan ini kami mengunjungi Makam Sahabat Nabi Muadz bin Jabal yang terdapat di daerah Irbid, Utara Yordania yang berbatasan dengan tanah Palestina yang diduduki israel dan juga Dataran Tinggi Golan yang dulunya merupakan bagian dari negara Suriah, namun kini dikuasai israel.

Perjalanan kali ini cukup jauh, sekitar 3 jam lebih dari kota Amman. Namun tidak mudah untuk masuk ke daerah ini, karena merupakan kawasan perbatasan Yordania dengan Israel, sehingga seluruh kawasannya dikontrol tentara Yordania.


Cek pemeriksaan di perbatasan Yordania. (Foto: Nico Adam)

Setiap pengunjung yang akan menuju District Ash Shunah Ash Shamaliyah harus melewati pemeriksaan tentara. Alhamdulillah, kami bisa melewati penjagaan militer tersebut. Menurut sopir orang setempat yang membawa kami, terdapat beberapa negara yang tidak diizinkan memasuki kawasan ini. Syukurlah Indonesia tidak termasuk yang dilarang. 


Pemeriksaan keamanan di perbatasan Yordania. (Foto: Nico Adam)
    
Sahabat Nabi yang Pandai

Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan "Abu Abdurahman" adalah salah seorang sahabat nabi, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun), yang dikenal sangat diteladani orang-orang di sekitarnya. Muadz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqih, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana halal dan yang haram. 

Mu'adz juga merupakan Duta Besar Islam pertama kali yang dikirim Rasulullah. Selain itu, Muadz juga merupakan seseorang periwayat hadist. Di komplek makam yang dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dari kota Irbid, juga terdapat perpustakaan lengkap dengan koleksi buku dan menyimpan berbagai literatur sejarah perjalanan dan riwayat Muadz bin Jabal.

Sebagaimana diceritakan pengurus perpustakaan Ahmad, bahwa Allah SWT mengkaruniakan kepada Muadz bin Jabal kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah, padahal Muadz baru memeluk Agama Islam pada usia 18 tahun.

Muadz masuk Islam berkat dakwah Musaib bin Umair ketika berada di Madinah. Sejak itulah, ia belajar Islam secara mendalam. Karena kepandaiannya, Muadz cepat menjadi seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka, misalnya Amru bin Al-Jamuh.


Dubes RI untuk Yordania Teguh Wardoyo (tengah). (Foto: Nico Adam)

Pembantu Rasulullah sebagai Pendakwah di Makkah dan Negeri Yaman

Muadz, sebagai sahabat Rasul yang terkenal sebagai qadi ini pernah diminta Rasulullah untuk membantu mengajarkan syariat agama Islam di Makkah. Ajakan Rasulullah ini karena permintaan masyarakat Makkah yang ingin memperdalam agama Allah. Oleh karenanya Muadz bin Jabal diminta Rasulullah untuk menetap bersama masyarakat di Mekkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. 

Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengirimkan tenaga pengajar kepada mereka. Rasulullah menyambut baik permintaan raja-raja Yaman tersebut, dan memilih Muaz untuk kembali memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat lainnya.

Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan agama Islam, Muadz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Karena kepandaian dan ketekunannya, ia berhasil meningkatkan omzet dagangnya dan berubah menjadi seorang kaya raya, santun dan faqih. 

Perjalanan Terakhir ke Negeri Urdun, Syam


Danau Tiberias Israel dan Dataran Tinggi Golan. (Foto: Nico Adam)

Setelah beberapa lama berdakwah di Yaman, Muadz akhirnya mendapat misi berikutnya untuk berdakwah ke negeri Syam guna mengajarkan agama Islam ke penduduk negara tersebut.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, gubernur Syam meminta kepada khalifah untuk mengirimkan guru bagi penduduknya. Lalu Khalifah Umar memanggil beberapa sahabat untuk berdakwah ke Damsyik (Suriah), Palestina dan Yordania. 

Dalam syiar agama kali ini, Muadz bin Jabal mendapat tugas untuk pergi ke negeri Urdun (Yordania) dan tinggal di sana guna mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat setempat dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam.

Namun keberadaan Muadz bin Jalal di negeri Urdun tidak terlalu lama. Karena ketika beliau berada di daerah ini, ternyata sedang terjadi serangan penyakit menular yang sedang mewabah. Muadz terjangkiti dan sakit. Muadz akhirnya dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan berserah diri. Muadz wafat pada tahun 18 Hijriah dalam usia 33 tahun. Hingga saat ini, makamnya tak pernah sepi dari para peziarah.

Hikmah Tauladan dari Muadz bin Jabal

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Muadz!... Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat. Pada suatu waktu Muadz pernah berdialog dengan Rasulullah, beliau menyampaikan “Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi.” 

Untuk itu marilah kita tetap bersyukur dan isilah hidup ini dengan berbuat kebajikan, karena kita tidak tahu kapan dipanggil Allah SWT. Semoga langkah kita dirahmati Allah Subhanahu Wa Taala. Amin. (Nico Adam)


Penulis berada di depan makam Sahabat Rasulullah. (Foto: Nico Adam)


(WIL)