Menikmati Puasa Ramadan di Negeri Paman Sam

   •    13 Juni 2018 17:32 WIB
Ramadan 2018
Menikmati Puasa Ramadan di Negeri Paman Sam
Masjid Al-Farooq di Atlanta, Amerika Serikat menjadi titik temu bagi umat Islam di Atlanta (Foto: Harifa Siregar).

Atlanta: Puasa Ramadan selalu menjadi tantangan tersendiri. Ramadan tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi juga berusaha untuk menjalankan ibadah demi kesempurnaan berpuasa.
 
Tantangan terberat berpuasa di Amerika Serikat adalah waktu berpuasa yang jauh lebih panjang dari pada di Indonesia. Di hari pertama Ramadan 1439 H, imsak pada pukul 04.57 pagi dan Magrib pada pukul 08.37 sore. Durasi puasa di AS sekitar 15 jam, lebih lama dari pada di Indonesia ditambah dengan  cuaca Atlanta yang akan masuk ke musim panas dan akhir-akhir ini bisa mencapai suhu sekitar 30-32 derajat Celsius (86-90 F). Saya sangat bersyukur perkuliahan sedang libur di awal Ramadan tahun ini dan Summer Semester dimulai awal Juni 2018.
 
Saya juga cukup beruntung tinggal di kota besar seperti Atlanta. Al-Farooq, salah satu masjid terbesar di Metro Atlanta berlokasi dekat dengan tempat saya tinggal, sekitar 10-15 menit berjalan kaki. Masjid ini selalu ramai dengan kegiatan keagamaan terlebih ketika bulan Ramadan seperti sekarang. Al-Farooq menyediakan makanan berbuka bagi para Jemaah yang bisa dikatakan sangat mencukupi, seperti kurma, nasi, ayam dan beberapa jenis sayuran atau terkadang tergantung dari makanan yang diantarkan oleh para donator masjid.
 
Ada banyak kajian terkait Ramadan dan Islam baik sebelum berbuka atau setelah Salat tarawih. Masjid ini menjadi titik temu bagi umat Islam dari berbagai negara yang tinggal di sekitar Metro Atlanta. Jamaah Al-Farooq sebagian besar berasal dari timur tengah, Afrika, ataupun warga Amerika Serikat sendiri. Ada juga mahasiswa yang berasal dari Georgia Institute of Technology yang kerap beribadah disana. Mahasiswa Indonesia di Atlanta jumlahnya terbatas.
 
Di kampus saya, Georgia State University, hanya terdapat dua orang mahasiswa asal Indonesia yang sedang mengambil program doktor. Sementara di Georgia Tech, hanya terdapat sekitar dua atau tiga orang mahasiswa muslim asal Indonesia.
 
Di Atlanta terdapat juga komunitas warga Indonesia, Ikatan Keluarga Muslim Indonesia di Atlanta (IKMIA) yang cukup aktif menyelenggarakan pengajian setiap bulannya. Pada bulan Ramadan sekarang, Ikmia menyelenggarakan buka puasa bersama setiap minggu di akhir pekan.
 
Pada pekan pertama Ramadan 1439 ini, Ikmia mendapatkan kesempatan kunjungan dari Ustadz Dr. H. Rusli Hasbi yang sedang melaksanakan Program Safari Ramadan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) North America. Beliau sempat menyampaikan ceramah singkat dan tanya jawab seputar Ramdhan dan Agama Islam sebelum dan sesudah berbuka puasa.
 
Baik pengajian atau pun berbuka puasa bersama dilakukan berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Saya senantiasa menyempatkan hadir baik di pengajian bulanan dan berbuka puasa. Meskipun terkadang jaraknya cukup jauh dari lokasi saya tinggal, Alhamdulillah, selalu ada rekan Ikmia yang berkenan mengantar dan menjemput.
 
Kegiatan semacam ini cukup membantu saya untuk bersosialisasi dengan orang-orang Indonesia di Atlanta sehingga saya tidak hanya dapat merasakan suasana “rumah”, juga membuka wawasan saya terhadap situasi dan kondisi tinggal di Amerika Serikat dan khususnya di kota Atlanta.
 
Ramadan pertama di Amerika harus saya akui memberi kesan yang sangat baik. Tidak hanya dari segi kemudahan dalam menjalankan ibadah, juga kesempatan untuk berkenalan dengan banyak orang dengan latar belakang, negara asal dan status sosial yang berbeda. Dari pertemuan-pertemuan di masjid atau pun pengajian, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang kondisi kehidupan umat Islam tidak hanya di Amerika Serikat, juga di negara-negara lain di dunia.
 
Kesempatan untuk berbincang dengan mereka yang terlahir sebagai seorang muslim maupun yang baru memeluk agama Islam juga membuka wawasan saya terhadap gambaran Islam di mata banyak orang.
 
Khususnya di Atlanta, saya merasakan penerimaan yang luar biasa terhadap identitas keagamaan seseorang. Orang-orang saling menghargai perbedaan. Kemudahan beribadah menjadi satu bukti bagaimana kehidupan sosial di Amerika Serikat dibangun dengan semangat toleransi terhadap keberagaman. Keberadaan Masjid Al-Farooq dan komunitas IKMIA, sangat membantu dan mempermudah menjalankan salah satu rukun Islam.

Tantangan baik yang datang dari faktor waktu ataupun realitas bahwa muslim adalah minoritas di Amerika, tidak saya rasakan menjadi satu kendala yang berarti.
 
 
Penulis adalah Mahasiswa PhD di Georgia State University, Penerima Beasiswa Fulbright, Harifa Siregar.
 
(FJR)