Alquran Batik, Sebuah Paduan Budaya dan Dakwah

Pythag Kurniati    •    12 Juni 2016 14:32 WIB
ramadan 2016
Alquran Batik, Sebuah Paduan Budaya dan Dakwah
Pembuatan Al-Quran batik di Laweyan Solo, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Pria setengah baya tampak takzim menorehkan huruf demi huruf hijaiyah di selembar kain mori 50 x 80 sentimeter. Tangannya luwes menyelupkan canting ke wajan yang berisi lilin cair. Sedikit embusan ditiupkan ke canting sebelum kembali memborehkan untaian ayat suci Alquran.

Ya, pria itu tengah merampungkan mushaf Alquran batik, di Kampung Sayangan Kulon No 9, RT 01 RW 03, Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Mirip tampilan Alquran kertas umumnya, bagian tepian Alquran batik dihiasi motif-motif ragam nusantara.

Salah seorang inisiator Alquran batik, Alpha Fabela, mengungkapkan, ide pembuatan muncul kurang lebih tiga bulan lalu. Latar belakangnya, untuk memasyarakatkan Alquran.

Alpha menggandeng setidaknya 10 perajin batik di Kampung Laweyan. Bukan hanya itu, masyarakat dan para pelajar pun akan dirangkul.

“Ini menjadi sebuah gerakan moral, kami memeluk Islam sehingga wajib bagi kami mengedukasi masyarakat untuk membaca dan menulis Alquran,” terangnya saat ditemui di Laweyan Solo, Minggu (12/06/2016).

Restu MUI

Menurut Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan ini, pembuatannya menuntut kejelian agar tak ada satu huruf dan tanda baca yang berubah. Langkah pertama, terang Alpha, memotokopi lembar Alquran dalam ukuran besar. Hasil fotokopian dijadikan pola dasar sebelum dibatik dengan lilin pewarna alami.

“Setelah di-blat (jiplak), akan dicek oleh tenaga dari Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Muhammadiyah Solo. Kemudian dibatik, dicek kembali, diwarna, lalu dicek lagi,” ungkapnya.

Mengapa pengecekan harus dilakukan berkali-kali? Alpha mengatakan kesalahan pada huruf atau tanda baca bisa mengubah makna. Untuk itu pengecekan dilakukan oleh ahli lebih dari tiga kali selama proses. Tak heran butuh waktu dua hari untuk merampungkan satu lembar Alquran batik.


Salah satu bagian Alquran batik. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati) 

Jauh sebelum itu, Alpha dan inisiator lain telah berdiskusi soal rencana pembuatan Alquran batik dengan berbagai pihak. Termasuk Majelis Ulama Indonesia. 

“MUI sudah memberi lampu hijau, Alquran batik ini boleh diproduksi karena tidak digunakan sebagai pakaian,” jelas dia.

Alquran yang ditarget rampung dalam delapan bulan ini tidak dijual. Proses panjang pembuatannya akan diingat oleh semua orang sebagai satu perjuangan memadukan dakwah dan kekayaan budaya tanah air. Alquran batik ini pun diharapkan mampu menjadi ikon baru bagi Kota Solo.


(SAN)