Transportasi Umum

Terminal Bus Harus Dikelola Profesional

Meilikhah    •    30 Juni 2017 01:08 WIB
mudik lebaran 2017
Terminal Bus Harus Dikelola Profesional
Penumpang arus balik di terminal bus AKAP Pulogebang, Jakarta Timur, Kamis (29/6/2017). MI/Ramdani

Metrotvnews.com: Setelah kereta api, armada bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) tetap menjadi andalan warga yang mudik lebaran. Jumlah penumpangnya pun naik dibanding biasanya. Tetapi kenaikannya tak sebesar moda transportasi lain.

Fenomena menyusutnya penumpang bus AKAP lama menghantui pengusaha otobus. Mereka melakukan berbagai inovasi layanan, investasi bus baru serta variasi rutenya untuk memperbaiki keadaan dan mencari pelanggan baru, seperti dilakukan anggota Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI).

“Alhamdulillah teman-teman berkomitmen selalu berinovasi dan memperbaiki pelayanan di tengah kondisi yang sulit, baik dari sisi minat masyarakat maupun dukungan pemerintah,” kata Ketum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan, melalui surat elektronik, Kamis (29/6/2017).

Baca juga: Penumpang Berkurang, Otobus Harus Inovatif

Walau kalah pamor dibanding penerbangan low cost carrier dan mobil murah, bus AKAP tetap bagian penting dari pembangunan nasional. Melalui bus AKAP warga di kota-kota kecil mendapatkan akses terhubung dengan kota-kota lain untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi dan lain sebagainya.

Selain pengusaha otobus yang terus berusaha maksimal, unsur pemerintah yang harus turun tangan mencegah terputusnya akses transportasi penting itu. Salah satunya adalah serius memperbaiki menajemen terminal bus sehingga pengelolaannya lebih profesional dan akuntabel.

"Jujur saja, seperti apa sih citra terminal bus di masyarakat? Jauh di bawah bandara, pelabuhan dan stasiun kan? Di bandara ada Angkasa Pura, pelabuhan ada ASDP di stasiun ada PT KAI. Semua BUMN profesional dengan SDM yang kompeten. Lalu di terminal bus bagaimana?" papar Sani.

Baca juga: Terminal Bus Rasa Bandara

Terminal bus yang bersih, nyaman, aman dan berada di lokasi mudah dijangkau adalah faktor penting menarik penumpang. Bahkan bisa menghilangkan terminal bayangan yang menjadi penyebab kemacetan.

Dia berharap ada lebih banyak lagi terminal bus baru seperti Pulogebang di Jakarta Timur dan diremajakan seperti Tirtonadi di Surakarta. Tidak cukup hanya itu, tetapi juga kesungguhan dan konsistensi pengelolaan terminal bus secara profesional bisa berkelanjutan agar investasi pemerintah tidak sia-sia.

Tidak sedikit terminal bus yang awalnya rapi menjadi semrawut akibat buruknya pengelolaan. "Lalu siapa seharusnya melakukan inovasi mengelola terminal bus? Itu porsi pemerintah yang seharusnya mengelola terminal?” sambung Sani.



 


(LHE)