Cerita Bilal Mogok Azan

Sobih AW Adnan    •    28 Mei 2018 03:58 WIB
kisah ramadan
Cerita Bilal Mogok Azan
ILUSTRASI: Pixabay

Jakarta: Selepas Rasulullah Muhammad saw. wafat, kaum muslimin bersepakat untuk berbaiat kepada Abu Bakar As-Shidiq sebagai khalifah. Namun bagi Bilal ibn Rabah, pergantian kepemimpinan tersebut tak cukup mengobati rasa kehilangan.

Bilal menangis setiap melintasi sudut kota Madinah yang dianggapnya punya cerita tersendiri bersama Rasulullah. Hingga akhirnya ia berpendapat, selama masih di kota nabi, kepiluan itu tak akan pernah padam.

Bilal mantap untuk pamit meninggalkan Madinah. Kepada Khalifah Abu Bakar, ia mengutarakan maksudnya.

"Apa alasanmu, wahai Bilal?" tanya Abu Bakar setelah mendengar penuturan Bilal.

"Di sini terlalu banyak kenangan bersama Nabi. Di saat kutatap sesuatu yang pernah Rasulullah sentuh, maka bayangan mulia itu turut hadir. Itulah yang membuatku senantiasa bersedih dan menangis," jawab Bilal.

Dengan berat hati, Abu Bakar mengizinkan. Bilal mohon diri, hingga bertahun-tahun kemudian ia menetap di Bidarian, dekat Syam, lalu bergeser ke Homs, Syria.

Sejak meninggalkan Madinah, Bilal pun selalu menolak saat diminta mengumandangkan azan.

Kerinduan yang begitu berat laksana membuat sahabat Bilal bisu. Terlebih, jika ia harus melantangkan lafaz "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah". Tak akan ada suara, terkecuali tangis.

Hingga di suatu malam, Nabi mendatangi mimpi Bilal. Rasul berkata, "Wahai Bilal, mengapa kau tak pernah mengunjungiku lagi?"

Bilal terperanjat dari tidurnya. Ada semacam rasa sesal. Lalu ia lekas mengemasi barang-barang untuk kembali ke Madinah, menziarahi sosok yang begitu dirindukannya.

Dan ternyata, Madinah sudah kembali berubah. Bilal menjumpai kepemimpinan muslim kini telah beralih ke khalifah Umar ibn Khattab. Ia mendengar Abu Bakar wafat menyusul Rasulullah. Di saat menziarahi makam kedua panutannya itu, Bilal meluapkan tangis yang kian tak terbendung.

"Wahai paman muazin Nabi. Kami ingin mendengar azanmu lagi sebagaimana di masa kakek," bisik kedua cucu Rasulullah saw., Hasan dan Husein saat dikunjungi Bilal.

Bilal mendekap keduanya, tanda ia setuju. Dilihatnya lebih dulu menara yang biasa ia jadikan tempat mengumandangkan azan, ia menaikinya, lalu melengkingkan suara merdunya hingga membuat kota nabi mendadak redup, dan senyap.

Aktivitas masyarakat terhenti. Muslimin Madinah merasa terjebak dalam kenangan-kenangan indah bersama Rasul. Sebagian dari mereka berlarian keluar rumah, sebagian lagi berkata, "Apakah Rasulullah diutus kembali?"

"Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah ..." kumandang Bilal.

Pecahlah tangis seluruh warga Madinah. Termasuk khalifah Umar yang bahkan terdengar paling keras di antara yang lainnya. Ini kali terakhir Bilal menuntaskan azan seusai Rasulullah berpulang. Kumandang azan yang diterjemahkan muslimin sebagai suara kerinduan.

Sumber: Disarikan dari salah satu kisah di Al Bidayah Wan Nihayah, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir.


(SBH)