Umar Menolak Gaji Besar

Sobih AW Adnan    •    29 Mei 2018 03:21 WIB
kisah ramadan
Umar Menolak Gaji Besar
ILUSTRASI: Pixabay

Jakarta: Sepeninggal Abu Bakar As Shidiq, Umar ibn Khattab resmi diangkat sebagai khalifah. Umar pun ditetapkan memperoleh gaji sejumlah yang diterima pendahulunya, hitungan upah yang tidak seberapa untuk sekelas kepala negara.

Sayangnya, di saat bersamaan harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Merasa prihatin, para sahabat berkumpul untuk merumuskan ulang apa yang telah diputuskan sebelumnya.

Turut dalam pertemuan itu; Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Thalhah ibn Ubaidillah, serta Zubair ibn Awwam.

"Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada Umar agar tunjangan hidupnya dinaikkan. Jika Umar menerima usulan ini, kita naikkan tunjangannya menjadi lebih besar," usul satu di antara para sahabat yang hadir.

Para sahabat bersepakat. Mereka langsung bergegas menuju rumah sang khalifah. Namun, ketika baru separuh perjalanan, tiba-tiba Utsman menyela, " Sebaiknya usulan ini jangan langsung disampaikan kepada Umar. Lebih baik kita beri isyarat lebih dulu melalui putrinya, Hafsah. Saya khawatir, khalifah justru akan murka."

Tujuan pun berbelok. Ditemuinya Hafsah yang juga merupakan istri Rasulullah Muhammad saw. itu. Akan tetapi, ketika putri kesayangannya tersebut meneruskan usulan para sahabat, Umar marah.

"Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?" tanya Khalifah Umar.

Hafsah menjawab, "Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum ayah memberitahukan pendapat tentang usulan itu."

Sahabat berjuluk AL Faruq itu menghela napas, lantas bertanya, "Demi Allah, ketika Rasulullah masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki beliau di rumahnya?"

"Rasulullah hanya memiliki dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu, dan satu lagi dipakai sehari-hari," jawab Hafsah.

Umar kembali bertanya, "Bagaimana dengan makanan yang dimiliki Rasulullah?"

"Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin."

"Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?" tanya Umar, lagi.

"Tidak. Beliau hanya memiliki selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur saat musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di atas tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur."

Setelah mendengar putrinya mulai menjawab dengan tersengal-sengal, Umar akhirnya berkata;

"Wahai Hafsah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW senantiasa hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu dibagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku pun akan mengikuti jejaknya."

"Perumpamaanku dengan kedua sahabatku, yakni Rasulullah dan Abu Bakar adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkan yang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yang terdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya dan bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat."

Sumber: Disarikan dari sebuah kisah dalam Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Tarikh At-Thabari jilid I) karya Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari.


(SBH)