Senjakala Angkutan Bus Daerah

Surya Perkasa    •    24 Juni 2017 09:00 WIB
mudik lebaran 2017
Senjakala Angkutan Bus Daerah
Bus yang melayani perjalanan antardaerah. ANTARA/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Ciamis: Dulu, mereka bak raja yang menguasai jalur-jalur darat di Pulau Jawa. Tapi pengaruh mereka terkikis oleh kondisi zaman, aturan dan bisnis keuangan yang tak pernah berkompromi.

Itulah yang dirasakan para perusahaan angkutan bus di daerah-daerah. Angkutan di kawasan Jawa Barat contohnya. Belasan PO angkutan bus yang menjadi penguasa jalur selatan dan rujukan daerah lain, gulung tikar satu persatu.

"Dulu ada setidaknya 12 perusahaan . Satu persatu gulung tikar," kata Sekretaris Umum Organda Ciamis, Ekky Bratakusuma saat berbincang dengan Metrotvnews,com, Ciamis, Jumat 23 Juni 2017.

Kini, hanya tinggal tiga perusahaan yang berhasil bertahan hidup. PO Aladdin dan PO Merdeka dengan armada ratusan bus pada era 90an bahkan kini tinggal memiliki 30-50 unit beroperasi.

Kisah pengusaha angkutan

Salah satu perusahaan yang bertahan hidup yakni Gapuraning Rahayu (GR). Saat perusahaan lain berusaha keras agar tak tergulung biaya operasional yang makin membengkak, PO yang berkecimpung di bisnis angkutan sejak 70an akhir ini justru semakin bertumbuh.

"Kita upayakan menjaga pelayanan. Kalau misalnya cuma ada satu penumpang, kita tetap jalan," kata Staf Asisten Direktur GR Group, Nurjaman.

Tapi nyatanya toh mereka tak bisa bertahan melawan regulasi dan kebiasaan masyarakat. Di musim mudik yang biasanya menjadi sumber pendapatan besar, tak lagi jadi kabar bahagia.

Ini terkait soal kebijakan mudik gratis yang kerap tak melibatkan perusahaan bus daerah. Mau tak mau, omzet menurun. Perusahaan angkutan bus daerah hanya bisa mengurut dada tanpa bisa berkata apa-apa.

"Syukurnya, cuma ada mudik gratis. Enggak ada balik gratis. Semoga saja ini terus jadi pemasukan," kata Nurjaman sembari tersenyum miris.

Sesekali sembari bertanya ke mekanik bus yang tengah bekerja, dia juga bercerita soal kebiasaan masyarakat Indonesia yang tak mau repot. 

Mudik dengan kendaraan pribadi walau bermacet-macetan karena gengsi. Atau karena alasan mempermudah jalan saat di kampung halaman. Ditambah parah karena semakin mudahnya membeli kendaraan pribadi.

"Beda dengan di luar, macetnya itu manusia yang jalan berbondong-bondong. Bukan macet kendaraan. Naik kendaraan umum itu malu," kata dia.

Persoalan menurunnya jumlah pemasukan, semakin runyam karena pajak dan biaya operasional yan makin melambung. Pengusaha semakin geleng-geleng kepala karena pajak kendaraan bermotor dan biaya balik nama yang naik sampai 100 persen.

"Ini sudah ditolak habis-habisan Organda Ciamis. Surat keberatan ini sudah dilayangkan ke pengurus pusat Organda," kata Ekky.

Harapan mereka yang mencari nafkah

Tak menyoal biaya operasional yang makin melambung. Tidak pula terlalu mempermasalahkan perkara kebiasaan dan regulasi. Pengusaha angkutan bus hanya ingin iklim bisnis dibuat sehat.

"Terminal diperbaiki. Dibuat nyaman. Seperti kereta yang sekarang untuk kelas ekonomi saja sangat berkelas. Lalu soal pungli dan informasi," kata Nurjaman.

Penumpang diharapkan meningkat dengan perbaikan fasilitas. Karena lagi-lagi penumpang angkutan umum mengejar kenyamanan, kepastian dan kemudahan.

Tidak hanya itu, pengusaha berharap ada akses finansial yang lebih baik bagi pengusaha angkutan darat. Sebab, angkutan darat masih dianaktirikan bisnis perbankan.

"Kita cuma bisa kredit ke leasing. Bank tidak berani beri pinjaman. Ini kan membuat pengusaha makin tercekik," kata Ekky yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia itu.


(SCI)