Unta Jabir dan Berkah Seperjalanan Bersama Nabi

Sobih AW Adnan    •    01 Juli 2016 04:04 WIB
kisah ramadan
Unta Jabir dan Berkah Seperjalanan Bersama Nabi
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketika tengah menempuh sebuah perjalanan bersama Rasulullah Muhammad SAW, tiba-tiba unta yang ditunggangi Jabir ibn Abdullah lunglai. Ia berjalan lambat sehingga tertinggal cukup jauh di belakang Rasul.

Nabi menoleh, melihat unta yang sedang ditunggangi sahabatnya itu berjalan terengah-engah, nabi memutar balik. Setelah dekat, Nabi bertanya, "Ada apa dengan untamu, wahai Jabir?"

"Dia sedang sakit, wahai Rasulullah," jawab Jabir.

Kemudian Rasulullah turun. Diambilnya sebatang kayu dan ia arahkan ke bagian lambung unta milik Jabir. Setelah Nabi tuntas berdoa, beliau kembali bersabda, "Bagaimana kau lihat untamu sekarang, wahai Jabir?"

Jabir menaiki untanya. Tunggangannya itu kembali gesit, bahkan bisa mendahului unta Rasulullah. Jabir pun berkata, "Wahai Rasul, sekarang untaku kuat dan sehat kembali."

Nabi dan Jabir bercakap-cakap di sepanjang jalan menuju Madinah. Rasul bertanya kepada Jabir, "Apakah engkau bersedia menjual untamu itu kepadaku?" 

"Tidak, wahai Rasulullah, namun aku akan menghibahkannya kepadamu," jawab Jabir.

Nabi menyela, "Tidak. Jual untamu itu kepadaku." 

"Baiklah ya Rasul, hargailah untaku ini," balas Jabir.

"Bagaimana kalau satu dirham?" 

"Tidak, wahai Rasulullah, kalau harganya seperti itu, engkau merugikanku." 

"Dua dirham?" 

Jabir kembali berkeberatan, "Aku tidak mau seharga itu, wahai Rasulullah." 

Akhirnya harga untuk seekor unta itu terus menerus ditinggikan Nabi. Hingga sampai penawaran satu uqiyah (setara dengan 40 dirham), Jabir baru menyepakati.

"Wahai Rasulullah, apakah engkau rida dengan harga sebesar itu?" tanya Jabir.

"Ya."

Lalu Jabir mengesahkan bahwa unta yang ditungganginya itu menjadi milik Nabi. Lalu dalam perjalan yang terus menuju Madinah itu, Nabi bertanya, "Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?" 

"Sudah, wahai Rasulullah," jawab Jabir.

"Dengan gadis atau janda?" tanya Rasul kembali.

"Janda."

Rasul bertanya, "Kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis hingga engkau bisa bercanda dengannya dan ia bisa bercanda denganmu?" 

Sahabat Nabi yang dikenal hidup sederhana dan penuh keterbatasan itu lantas menjelaskan, "Ayahku gugur di perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Aku menikahi seorang wanita yang dewasa sehingga bisa mengurus dan mengasuh mereka." 

Rasul tersenyum, "Engkau benar, insya Allah," katanya.

Lalu Nabi berkata, "Bagaimana jika setibanya kita di Shirar (kira-kira 5 kilometer dari Madinah), aku perintahkan sahabat untuk menyiapkan unta guna disembelih, kemudian kita adakan jamuan daging unta pada hari tersebut hingga istrimu mendengar kabar tentang kita dan ia melepaskan bantalnya?" 

"Aku tidak memiliki bantal wahai Rasulullah," jawab Jabir.

Rasulullah berkata, "Engkau akan memilikinya, insya Allah. Karena itu, jika engkau telah tiba di rumahmu, maka lakukanlah perbuatan orang cerdik." 

Setibanya di Shirar, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan unta kemudian disembelih, jamuan pun digelar hari itu. Sorenya, Jabir menceritakan kisah tersebut kepada sang istri, kemudian istrinya menjawab, "Lakukanlah, dengar dan taatlah." 

Sehari setelah itu, Jabir menuntun untanya hingga ke depan pintu masjid Rasulullah. Tak lama, ketika Nabi keluar dan melihatnya, ia bersabda, "Apa ini?" 

Para sahabat menjawab, "Ini unta yang dibawa Jabir."

"Di mana Jabir?" tanya Rasul.

Setelah Jabir menemui Nabi, Rasulullah pun bersabda, "Wahai anak saudaraku, ambil untamu, karena ia menjadi milikmu." 

Rasulullah memanggil Bilal, dan dia berpesan, "Pergilah bersama Jabir, dan berikan kepadanya uang satu uqiyah." 

Hingga Bilal dan Jabir undur diri guna menaati perintah Rasulullah. Bilal menyerahkan uang satu uqiyah kepada sahabat Jabir, bahkan memberikannya sedikit tambahan.


Sumber: Disarikan dari hadits nomor 2998/Sahih Muslim
 


(SBH)