Kala Umar Tolak Kenaikan Gajinya Sebagai Khalifah

Sobih AW Adnan    •    26 Juni 2016 17:44 WIB
kisah ramadan
Kala Umar Tolak Kenaikan Gajinya Sebagai Khalifah
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketika Umar ibn Khattab diangkat sebagai khalifah, maka ditetapkanlah baginya gaji yang setara dengan nilai yang diterima pendahulunya, yakni Abu Bakar As-Shidiq. Sayangnya, di saat bersamaan harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik. Para sahabat prihatin, mereka berkumpul untuk merumuskan ulang apa yang telah diputuskan sebelumnya. Turut dalam pertemuan itu; Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Thalhah, serta Zubair.

"Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada Umar agar tunjangan hidupnya dinaikkan. Jika Umar menerima usulan ini, kita naikkan tunjangan hidup beliau," ujar salah satu di antara para sahabat yang hadir.

Para sahabat bersepakat. Mereka langsung bergegas menuju rumah sang khalifah. Ketika baru separuh perjalanan, tiba-tiba Utsman menyela, " Sebaiknya usulan ini jangan langsung disampaikan kepada Umar. Lebih baik kita beri isyarat lebih dulu melalui putrinya, Hafsah. Saya khawatir, khalifah justru akan murka."

Tujuan pun berbelok, ditemuinya Hafsah istri Rasulullah. Namun ketika putri kesayangannya itu menyampaikan usulan para sahabat, Umar marah. Kepada Hafsah ia berkata, "Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?"

Hafshah menjawab, "Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum ayah memberitahukan pendapat tentang usulan itu."

Umar menghela napas, lalu bertanya, "Demi Allah, ketika Rasulullah Muhammad masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki beliau di rumahnya?"

"Rasulullah hanya memiliki dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi dipakai sehari-hari," jawab Hafsah.

Umar kembali bertanya, "Bagaimana dengan makanan yang dimiliki Rasulullah?"

Hafshah menjawab, "Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin."

"Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?" tanya Umar, lagi.

"Tidak," jawab Hafsah. "Beliau hanya memiliki selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur saat musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di atas tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur."

Sang khalifah pun akhirnya berkata, "Wahai Hafsah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW senantiasa hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu dibagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku pun akan mengikuti jejaknya. Perumpamaanku dengan kedua sahabatku, yakni Rasulullah dan Abu Bakar adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkan yang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yang terdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya dan bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat."

Sumber: Disarikan dari sebuah kisah di Tarikh At-Thabari jilid I


(SBH)