Hujan Berkah di Malam Lailatulkadar

Sobih AW Adnan    •    02 Juni 2018 17:03 WIB
kisah ramadan
Hujan Berkah di Malam Lailatulkadar
ILUSTRASI: Pixabay

Jakarta: Permulaan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ialah ampunan, sementara pengujungnya merupakan janji pembebasan dari api neraka.

Begitulah sekiranya Rasulullah Muhammad saw. menjelaskan keutamaan anugerah Ramadan bagi setiap orang yang beriman.

Sekali waktu di paruh terakhir bulan suci, Nabi bertahajud bersama para sahabat. Angin bertiup sepoi-sepoi menyentuh kulit jemaah yang tengah berkumpul dan berdoa. Sementara di atas masjid Nabawi yang dibangun tanpa atap itu, langit mulai mendung, tiada berbintang.

Tibalah waktu manjur untuk beriktikaf. Nabi segera mendirikan salat diikuti para sahabat setianya. Namun, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Beberapa orang di antaranya hendak berteduh, tetapi hal itu urung dilakukan ketika melihat Nabi tetap khusyuk dalam salatnya.

Nabi tepat dalam posisi sujud, tanpa ada gerak sedikit pun. Beberapa sahabat mulai menggigil kedinginan. Kemudian, Rasulullah kembali menegakkan kepala, membacakan tahiyat, dan mengucapkan salam.

Hujan pun seketika berhenti.

Mendapati Rasulullah dalam kondisi basah kuyup, sahabat Anas ibn Malik beranjak untuk mengambil pakaian kering milik Nabi. Namun saat gerakan Anas dibaca Rasul, beliau langsung mencegahnya;

"Wahai Anas ibn Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku. Biarkanlah kita sama-sama basah. Nanti pun pakaian kita akan kering dengan sendirinya."

Anas kembali ke dalam barisan. Lalu Nabi meneruskan cerita bahwa ketika dalam hanyut sujud ia melihat para malaikat di bawah pimpinan Jibril as. turun dalam keindahan dan bentuk aslinya.

Malaikat berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih dan tahmid yang tak pernah didengar telinga. Alam semesta dipenuhi cahaya yang tidak pernah dilihat oleh mata. Mereka bergema, di langit, bumi, dan seluruh penjuru udara.

Dalam riwayat lain dikisahkan, Nabi pernah bersabda, "Aku terbiasa beriktikaf pada malam-malam ini, kemudian terasa padaku untuk iktikaf pada malam-malam akhir (21-30) Ramadan. Maka barang siapa yang telah iktikaf bersamaku tetaplah dalam iktikafnya. Sebab, aku telah diperlihatkan malam lailatulkadar kemudian dilupakannya. Karena itu, kalian carilah pada malam-malam ganjil."

Abu Said ibn Khudri melihat dengan mata kepala sendiri; kala baginda Nabi keluar salat Subuh, di wajahnya ada sedikit cipratan tanah berair.

Sumber: Disarikan dari hadis riwayat Abu Dawud, Bukhari, dan Muslim, dan salah satu kisah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah karya Imam Ibn Katsir.


(SBH)