Kedahsyatan Wahyu Pertama dan Kasih Sayang Siti Khadijah

Sobih AW Adnan    •    02 Juni 2018 03:24 WIB
kisah ramadan
Kedahsyatan Wahyu Pertama dan Kasih Sayang Siti Khadijah
ILUSTRASI: Pixabay

Jakarta: Angin Mekkah begitu dingin. Sementara sisa-sisa takut dan gemetar masih melekat di dada Muhammad. Dengan tergopoh, pria suci yang kini menjadi nabi itu berusaha menyingkir dari Hira, sebuah gua yang telah menjadi saksi turunnya wahyu pertama untuk utusan paling akhir; rasul akhir zaman.

Ketika berhasil mencapai mulut gua, Nabi kembali terkejut. Sesosok yang entah itu tiba-tiba kembali berdiri di atas angin sembari berkata, "Wahai Nabi Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan aku adalah Jibril."

Rasulullah berusaha memalingkan pandangan, serupa kebingungan. Anehnya, ke mana pun ia bergerak, makhluk yang baru saja memperkenalkan diri itu selalu merajai penglihatan. Sedangkan di sepanjang jalan, bebatuan dan pepohonan terdengar mengucapkan salam. Dengan penuh tergesa, Nabi terus menuruni bukit dan pulang.

"Wahai Abal Qasim, dari manakah engkau? Demi Allah, aku telah menyuruh orang untuk mencarimu hingga ke puncak Mekkah, namun mereka kembali tanpa membawa hasil apapun," sapa Siti Khadijah kala menjumpai Nabi di muka rumah.

Nabi terdiam, lantas bersabda, "Selimutilah aku! selimutilah aku! Agar gemetar ini hilang!"

Siti Khadijah mengambil selimut dan memakaikannya, lantas suami tercintanya itu ia papah menuju kamar. Setelah tampak sedikit tenang, Khadijah berkata, "Sungguh aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu."

Khadijah terus membujuk agar Nabi berkenan menceritakan hal ihwal yang telah dialami. Tak lama, Nabi pun bangkit dan menuturkan perihal penerimaan wahyu itu secara gamblang dan jelas.

Mendengar kabar agung dari Rasulullah saw, Ummul Mukminin itu terus menenangkan dan berkata:

"Jangan takut. Bergembiralah! Allah tidak akan merendahkanmu. Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah SWT telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu."

Rasulullah mulai tenang, sehingga mulai ditapakilah jalan perjuangan sebagai penyampai kebenaran. Tentu, bersama Khadijah yang melulu mempersembahkan dukungan dan pengorbanan.

Sumber: Disarikan dari hadis yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, serta kisah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir.


(SBH)