Sebabak Hujan di Malam Lailatul Qadar

Sobih AW Adnan    •    18 Juni 2017 02:45 WIB
kisah ramadan
Sebabak Hujan di Malam Lailatul Qadar
ILUSTRASI/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Ramadan hendak berakhir. Kala Nabi Muhammad SAW beriktikaf bersama para sahabat, langit tampak mendung dan angin berembus pelan. 

Nabi merasakan dengan jelas suasana langit dari Masjid Nabawi yang tak beratap itu. Ketika memasuki waktu mustajab, Nabi segera mendirikan salat.

Namun, tak ada yang menyangka. Di saat Rasulullah dalam posisi sujud, hujan deras langsung mengguyur Kota Madinah.

Para sahabat yang mengikuti Rasulullah salat, hampir saja berlarian berteduh. Tapi, urung. Lantaran melihat betapa khusyuknya Nabi dalam menjalani ibadah. 

Nabi, tampak tak bergerak sedikit pun. Setelah Rasulullah bertahiyat dan mengucap salam, barulah air langit itu terhenti.

Melihat Nabi yang basah kuyup, Anas ibn Malik bergegas mengambilkan pakaian kering untuk Rasulullah. Namun, niat baik sahabatnya itu dicegah Nabi. Beliau bersabda, "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku. Biarkanlah kita sama-sama basah. Nanti pun pakaian kita akan kering dengan sendirinya."

Anas kembali ke dalam barisan. Kemudian, Nabi menceritakan bahwa ketika bersujud, ia melihat para malaikat di bawah pimpinan Jibril menuruni bumi dalam keindahan bentuk aslinya. 

Malaikat berbaris rapi diiringi gemuruh tasbih dan tahmid dengan kesyahduhan yang tak pernah didengar telinga. Alam semesta pun dipenuhi cahaya yang tidak pernah tertangkap mata. Para malaikat bergema di langit, dan di bumi. 

Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, "Aku terbiasa beriktikaf pada malam-malam ini. Kemudian terasa padaku untuk iktikaf pada malam-malam akhir (21-30) Ramadan. Maka, barang siapa yang telah iktikaf bersamaku, tetaplah dalam iktikafnya. Sebab, aku telah diperlihatkan malam lailatul qadar, kemudian dilupakannya. Karena itu, kalian cari pada malam-malam ganjil."

Abu Said ibn Khudri melihat dengan mata kepala sendiri, ketika Nabi keluar salat Subuh selepas malam yang lebih baik dari seribu bulan itu, di wajahnya menempel sedikit tanah basah.

Sumber: Disarikan dari hadis riwayat Bukhari [813], Muslim [1167] dan Tafsir ibn Katsir.


(SBH)