Rasulullah dan Panen Kurma di Magrib yang Berkah

Sobih AW Adnan    •    20 Mei 2018 16:44 WIB
kisah ramadan
Rasulullah dan Panen Kurma di Magrib yang Berkah
ILUSTRASI: Pixabay

Jakarta: Jatuh tempo utang kembali menghampiri. Jabir ibn Abdullah merasa tak ada yang dilakukan terkecuali mencurahkan bebannya itu kepada Rasulullah Muhammad saw.

Bukan Jabir yang sebenarnya berutang, tidak pula dalam jumlah sedikit beban yang kini menjadi tanggungan. Ayahnya, Abdullah bin Amr yang gugur saat perang Uhud meninggalkan utang sebanyak 30 wasq atau setara 3.916,8 kilo gram kurma kepada seorang saudagar Yahudi.

Sepekan lalu, ia diberi batas pelunasan hingga nyaris menjadikannya putus harapan.

"Sesungguhnya ayahku syahid di perang Uhud, dan ia meninggalkan utang yang sangat banyak. Sementara aku cuma diwarisi kebun kurma yang jika dipanen bertahun-tahun pun tak akan bisa melunasi utang-utang itu," keluh Jabir, kepada Nabi.

Rasulullah tersenyum. Kemudian menjawab, "Pergilah dan kumpulkan kurma-kurmamu sesuai dengan jenisnya. Ajwah sendiri, Idzq  sendiri, Laun sendiri, dan undanglah penagih utang itu. Setelahnya, utuslah seseorang untuk memberitahuku."


Jabir tak pernah meragukan perintah Nabi. Meski secara hitung-hitungan, solusi yang ditawarkan itu tetap saja tak masuk akal.

Setibanya di kebun, sahabat yang telah tercatat turut dalam 19 kali pertempuran membela kaum muslim itu mulai memetik kurma dari kebun yang tak seberapa luas. Tak berselang lama, si penagih utang itu kembali datang. Juga Nabi, yang sudah diberikan kabar.

Mereka menyaksikan Jabir memetik kurma hingga bertandan-tandan.

Baik si Yahudi maupun Jabir, sebenarnya sama-sama terheran. Di benak mereka tersimpan tanya, "Mengapa dari setitik kebun bisa menghasilkan kurma berlimpah?"

Panen pun usai. Jabir menyerahkan pembayaran utang 30 wasq kurma itu kepada sang penagih. Namun kian terkejut, ternyata masih tersisa sebanyak 13 wasq; enam wasq kurma Ajwah, serta tujuh wasq kurma Laun.

"Ya Rasulullah, utang-utangku sudah lunas. Dan saya terheran dengan jumlah yang masih tersisa ini," ucap Jabir kepada Rasul.

"Beritahulah Umar," jawab Nabi menanggapi.

Jabir lekas menemui Umar ibn Khattab dan menceritakan kejadian itu secara runut dan lengkap. Mendengar itu, Umar menepuk pundak Jabir seraya bilang, "Ketika Rasulullah pergi ke kebunmu, saya sudah tahu bahwa kurmamu akan mendapat berkah."

Jabir menangis pecah. Magrib yang menggembirakan, begitu melegakan.

Sumber: Sahih Bukhari dalam bab Al Istiqrad wa Ad Duyun wal Hajr wa al Taflis.


(SBH)