Sumur Ruumah dan Kemurahan Hati Sahabat Utsman

Sobih AW Adnan    •    29 Juni 2016 04:59 WIB
kisah ramadan
Sumur <i>Ruumah</i> dan Kemurahan Hati Sahabat Utsman
Ilustrasi/ Awqafsa

Metrotvnews.com, Jakarta: Madinah dilanda kekeringan. Sahabat gusar, terlebih golongan Ansar yang sebelumnya telah terbiasa dilimpahi dengan kesegaran Zamzam. Satu-satunya sumur yang bisa diandalkan adalah Ruumah. Sayangnya, ia berada di bawah kepemilikan seorang Yahudi yang siapapun tidak boleh meminumnya, terkecuali dengan memberikan imbalan yang ia tentukan.

Air, sudah barang tentu menjadi kebutuhan vital. Guna memenuhi keperluannya sehari-hari, para sahabat harus rela mengantre dan membayar setiap ember air yang ia butuhkan. Hingga pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menyatakan keprihatinannya dan bersabda, "Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang sanggup dan bersedia menyumbangkan hartanya demi membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah SWT."

Mendengar janji Nabi, hati Utsman tergerak lantas segera mengunjungi sang pemilik sumur. Kepadanya ia lakukan tawar menawar, namun pemilik sumur tetap menolak untuk menjualnya. Bahkan ketika sahabat Utsman memberikan tawaran tertinggi, si Yahudi menjawab, "Wahai Utsman, seandainya sumur ini saya jual kepadamu, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari."

Utsman kembali berpikir, janji Rasul tentang balasan kasih sayang Allah SWT menjadikannya pantang menyerah. Kepada si pemilik sumur Utsman kembali berkata, "Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja?"

"Maksudmu?" balas tanya si pemilik sumur.

"Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu, kemudian lusa menjadi milikku, begitu pun seterusnya. Bagaimana?” jelas Utsman. 

Pemilik sumur menyunggingkan senyum. Di benaknya melintas keuntungan dengan jumlah besar tanpa harus kehilangan sumur yang telah lama dianggapnya sebagai mesin uang. Dengan mantap ia pun menyepakati tawaran Utsman. Setelah transaksi dilakukan, Utsman segera mengumumkan kepada para sahabat Nabi bahwa setiap selisih satu hari sumur Ruumah berhak diambil airnya oleh para pengikut rasul, secara cuma-cuma, tanpa pungutan atau pun imbalan.

Utsman disepakati menjadi pemilik sumur di hari pertama. Para sahabat mengambil air dengan leluasa. Bahkan sebagian besar dari mereka berinisiatif mengambilnya sesuai takaran kebutuhan selama dua hari.

Keesokan harinya, di saat sumur itu kembali menjadi milik Yahudi, lelaki itu tak mendapati satu orang pun yang datang membeli air untuk memenuhi kebutuhannya. 

Menjelang petang, rupanya ia putus asa. Si pemilik sumur kembali mengunjungi Utsman dan berkata, "Wahai Utsman, belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin."

Sahabat Utsman setuju, lalu dibayarnya seharga 20.000 dirham, kemudian ia wakafkan untuk keperluan umat Islam di Madinah, hingga hari ini.

Sumber: Disarikan dari hadits sahih riwayat Imam At-Tirmizi/hadits nomor 3636 dalam Sunan Tirmizi


(SBH)