Setan Pencuri Zakat

Sobih AW Adnan    •    24 Juni 2017 17:10 WIB
kisah ramadan
Setan Pencuri Zakat
ILUSTRASI/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Ramadan hendak usai. Kepada Abu Hurairah, Rasulullah Muhammad SAW menyuruh agar ia menangani pengumpulan zakat.

Abu Hurairah amat taat. Tak ada lagi yang dilakukannya, selain beribadah dan menjaga amanat dari Rasulullah itu.

Sekali waktu, Abu Hurairah jengkel ketika melihat seseorang yang tiba-tiba datang, lalu memunguti kurma hasil pengumpulan zakat dengan begitu tenangnya.

"Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah," kata Abu Hurairah sembari memegang tangannya.

Namun rupanya, pencuri itu cukup licik. Ia bersandiwara, "Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga yang juga membutuhkan ini."

Abu Hurairah yang lembut hatinya, akhirnya luluh dan membebaskannya begitu saja.

Ketika menghadap Rasulullah dan bermaksud melaporkan, Abu Hurairah malah kaget. Nabi sudah lebih dulu bertanya, semacam mengetahui duduk perkaranya.

"Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul.

Abu Hurairah menjawab, "Wahai Nabi, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga memiliki keluarga dengan kebutuhan yang sama. Oleh karena itu, aku kasihan kepadanya sehingga aku melepaskannya."

Mendengar penjelasan Abu Hurairah, Nabi bersabda, "Dia telah berdusta dan akan kembali lagi."

Pesan Nabi itu selalu terngiang di telinga Abu Hurairah. Ia berjanji, apapun alasannya tidak akan melepaskan si pencuri. 

Benar saja, pencuri itu datang lagi. 

Abu Hurairah langsung menyergapnya seraya berkata, "Aku benar-benar akan mengadukanmu kepada Rasulullah."

"Biarkanlah aku," jawab pencuri lagi. "Aku melakukan ini karena benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga yang membutuhkan ini. Setelahnya, aku janji tidak akan kembali lagi," kata dia.

Abu Hurairah pun tertipu lagi.

"Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?" tanya Nabi di keesokan pagi.

Abu Hurairah menjawab, "Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga mempunyai keluarga. Oleh karena itu aku merasa kasihan dan membiarkannya pergi."

"Dia telah berdusta dan akan kembali lagi," kata Nabi.

Abu Hurairah merasa begitu bersalah kepada Nabi. Ia menyimpan marah yang sangat kepada si pencuri. Hingga waktu malam tiba, ia kembali berjaga.

"Kali ini aku akan benar-benar mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini sudah kali ketiga, kau berkata tidak akan kembali tapi nyatanya masih saja mencuri," ucap Abu Hurairah geram kepada pencuri yang datang lagi.

Pencuri pun menjawab, "Biarkanlah aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang bermanfaat untukmu."

"Kalimat apa itu?" tanya Abu Hurairah.

Pencuri menjawabnya, "Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah Ayat Kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari."

Abu Hurairah kembali melepaskannya. Ia terus berpikir tentang nasihat itu dan berniat akan menanyakannya kepada Rasulullah.

Keesokan harinya, Rasulullah kembali bertanya, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?"

"Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca Ayat Kursi hingga selesai. Ia juga mengatakan jika aku melakukan itu, maka Allah akan menjagaku dan setan pun tidak akan mendekati hingga pagi hari," jawab Abu Hurairah.

"Kali ini dia berkata benar, meski aslinya dia pendusta," kata Rasul.

Abu Hurairah terdiam. Sampai Rasulullah kembali bertanya, "Tahukah kau siapa yang bercakap-cakap denganmu sampai tiga malam itu?"

"Tidak, ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah.

Nabi pun menjelaskan, "Dia adalah setan."


Sumber: Disarikan dari hadis nomor 2311/Sahih Bukhari


(SBH)