Abu Hurairah dan Keberkahan Semangkuk Susu dari Nabi

Sobih AW Adnan    •    25 Juni 2016 02:51 WIB
kisah ramadan
Abu Hurairah dan Keberkahan Semangkuk Susu dari Nabi
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Abu Hurairah hidup penuh kesederhanaan. Tak hanya sekali waktu para sahabat menjumpainya tengah tertidur di atas tanah, dengan sekepal batu yang diikatkan dengan kain di perutnya, sekadar untuk mengganjal dan menahan rasa lapar. 

Lapar, bukan hal yang rumit bagi sahabat Rasulullah Muhammad SAW bernama lengkap Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi ini. Cukup dengan mendengarkan lantunan ayat-ayat Alquran, maka segala perkara duniawi akan musnah dari dadanya. Terlebih jika ia mendapat kesempatan memandang wajah Nabi yang penuh cahaya.

Suatu hari Abu Hurairah sedang berbaring menahan rasa lapar. Ketika dilihatnya Abu Bakar As-Shidiq melintas, ia segera meminta tolong kepada sahabat Rasul itu untuk membaca barang satu-dua ayat Alquran. Sayangnya, Abu Bakar melewatinya begitu saja.

Harapan baru muncul dalam benak Abu Hurairah. Dilihatlah Umar ibn Khattab yang sedang berjalan dari kejauhan. Ketika telah berjarak sepelemparan batu, ia meminta sahabat berjuluk Al-Faruq itu membacakan ayat-ayat Alquran. Lagi-lagi serupa Abu Bakar, Umar pun tak sempat menengok dan melewatinya tanpa memenuhi apa yang ia minta.

Tibalah giliran Rasulullah SAW melintas. Nabi tersenyum karena ia tahu yang diinginkan sahabatnya itu hanya keceriaan wajahnya. Abu Hurairah mendapatkan sedikit tenaga, lalu bangkit.

"Wahai Aba Hirr! (sapaan Rasul kepada Abu Hurairah)," kata Nabi.

"Labaik, Ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah.

Rasul memberi aba-aba dan berkata, "Ikutlah bersamaku."

Nabi paham, rasa lapar telah menjerat perut Hurairah. Rasulullah berjalan, sementara Abu Hurairah mengikutinya dari belakang. 

Sesampainya di rumah Rasul, Abu Hurairah meminta izin untuk tetap mengikuti Nabi hingga ke dalam. Kemudian Nabi mengambil semangkuk susu yang dijumpainya. Kepada salah satu Ummahat Al-Mukminin kemudian Rasul bertanya, "Dari manakah ini?"

Istri Nabi menjawab, "Ini hadiah dari seseorang untukmu."

Rasulullah kembali tersenyum ke arah Abu Hurairah, lantas berkata, "Wahai Aba Hirr!"

"Labaik, Ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah.

Nabi bersabda, "Panggillah orang-orang Shuffah (Tamu-tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, uang, atau seseorang yang dapat dimintai pertolongan)." 

Abu Hurairah sedikit kecewa. Di benaknya muncul pertanyaan mengapa semangkuk susu itu justru hendak dibagikan ke lebih banyak orang dibanding sekadar dirinya.

"Bagaimana mungkin semangkuk susu itu cukup untuk orang-orang Shuffah?" tanya Hurairah memberanikan diri.

Nabi tak menjawab. Hurairah pun merasa takut jika Nabi murka. Ia bergegas menaati perintah Rasul untuk memanggili orang-orang Shuffah.

Para tamu yang dikehendaki Rasul mulai berdatangan. Setelah itu Nabi menyuruh Abu Hurairah untuk memberikan semangkuk susu itu kepada mereka.

Nabi memandang penuh ceria, betapa orang-orang yang lapar itu secara sigap dan bergantian meminum susu yang telah Hurairah berikan. Setelah semuanya merasa kenyang, mangkuk itu pun kembali ke tangan Abu Hurairah.

Setelah ia terima kembali mangkuk itu, Hurairah terbelalak. Ia merasa takjub sebab semangkuk susu itu masih berisi penuh; tak berkurang barang setetes pun.

"Wahai Aba Hirr!" kata Nabi, dihiasi sedikit tawa.

"Labaik, Ya Rasulullah," jawab Hurairah kembali.

"Duduk, dan minumlah," kata Nabi.

Abu Hurairah meneguknya, bahkan berkali-kali meminumnya sesuai dengan apa yang Nabi perintahkan.

Ketika kenyang telah dirasakan perut Hurairah, Nabi masih memerintah sahabatnya itu untuk meminumnya.

"Tidak, Ya Rasul. Demi Zat yang mengutusmu sebagai pembawa kebenaran, perutku sudah sangat kenyang," jawab Abu Hurairah.

Lalu Rasul membalas, "Berikan kepadaku."

Ketika menerima mangkuk berisi susu itu dari Hurairah, Nabi berulang kali memuji dan menyebut nama Allah SWT, baru kemudian meminumnya.

Sumber: Sahih Bukhari


(SBH)