Azan Kerinduan Bilal

Sobih AW Adnan    •    27 Juni 2016 17:45 WIB
kisah ramadan
Azan Kerinduan Bilal
Ilustras/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Rasulullah Muhammad SAW telah berpulang. Kaum Muslimin bersepakat untuk berbaiat kepada Abu Bakar As-Shidiq sebagai khalifah, pengganti Nabi. Tampuk kepemimpinan umat Islam boleh berlanjut, tapi di dada sahabat bernama Bilal ibn Rabah, kepergian Rasul telah menjadikannya dirundung sedih dan menangis di setiap waktu. Ia berpendapat, selama masih berada di Madinah maka kesedihan ini tak akan kunjung sirna. 

Bilal mantap untuk pamit meninggalkan kota Nabi. Ditemuinya khalifah Abu Bakar guna mengutarakan maksudnya itu.

"Apa alasanmu, wahai Bilal?" tanya Abu Bakar setelah mendengar penuturan Bilal.

"Di sini terlalu banyak kenangan bersama Nabi. Di saat kutatap sesuatu yang pernah Rasulullah sentuh maka bayangan mulia itu turut hadir. Itulah yang membuatku senantiasa bersedih dan menangis," jawab Bilal.

Dengan berat hati, Abu Bakar mengizinkan. Bilal mohon diri, hingga bertahun-tahun kemudian ia menetap Bidariyan, dekat Syam, lalu di Homs, Syria. Sepanjang ia meninggalkan Madinah, Bilal selalu menolak kala diminta mengumandangkan Azan. Kerinduan yang begitu berat laksana membuatnya bisu. Terlebih jika ia harus melantangkan lafaz Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Tak akan ada suara, terkecuali tangis.

Hingga di suatu malam Nabi mendatangi mimpi Bilal. Rasul berkata, "Wahai Bilal, mengapa kau tak pernah mengunjungiku lagi?"

Bilal terperanjat dari tidurnya. Ada semacam rasa sesal. Lalu ia lekas mengemasi barang-barang untuk kembali ke Madinah, menziarahi sosok yang begitu dirindukannya.

Madinah kembali berubah, Bilal menjumpai kepemimpinan Muslim diemban khalifah Umar ibn Khattab. Abu Bakar wafat menyusul Rasulullah. Di saat menziarahi makam kedua panutannya itu tangis haru menyela di setiap doa-doanya.

"Wahai paman muazin Nabi. Kami ingin mendengar azanmu lagi sebagaimana di masa kakek," ucap kedua cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein saat dikunjungi Bilal.

Bilal mendekap keduanya, tanda ia setuju. Dilihatnya lebih dulu menara yang biasa ia jadikan tempat mengumandangkan azan di masa Rasul. Ia menaikinya, lalu melengkingkan suara khasnya hingga membuat Madinah mendadak redup, dan senyap.

Muslimin Madinah merasa terjebak dalam kenangan-kenangan indah bersama Rasul. Setelah sekian tahun tak lagi ada suara yang dianggap mampu mendekatkan ingatan sedalam ini, sebagian dari mereka berlarian keluar rumah, sebagian lagi berkata, "Apakah Rasulullah diutus kembali?"

"Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah ..." kumandang Bilal.

Pecahlah tangis seluruh warga Madinah. Termasuk khalifah Umar yang bahkan terdengar paling keras di antara tangis lainnya. Ini kali terakhir Bilal menuntaskan azan seusai Rasulullah berpulang. Kumandang azan Bilal adalah suara kerinduan tiada tara.

Sumber: Disarikan dari salah satu kisah di Al Bidayah Wan Nihayah


(SBH)