Meneladani Nabi Sulaiman Menjadi Hamba yang Bersyukur

Syarief Oebaidillah    •    30 Mei 2017 14:49 WIB
ramadan 2017
Meneladani Nabi Sulaiman Menjadi Hamba yang Bersyukur
Ustad Arifin Ilham saat khotbah Jumat di kantor DPP Partai NasDem. Foto: MI/Arya Manggala

DALAM kisah para nabi dan rasul yang wajib diimani bagi umat Islam terdapat 25 nabi dengan nabi terakhir dan paripurna Nabi Muhammad SAW yang diutus Allah SWT untuk semua umat manusia. Di antara para nabi, adalah Nabi Sulaiman yang terkenal kaya pada zamannya, dan mempunyai kekuasaan terluas di dunia.

Namun, tingginya kekuasaan dan kekayaan luar biasa tidak membuat Nabi Sulaiman sombong dan angkuh. Itu justru menjadikannya hamba Allah yang selalu bersyukur atas nikmat dan karunia yang dimilikinya itu.

“Tidak ada hamba Allah yang amat berkuasa seperti Nabi Sulaiman. Beliau sosok yang amat cerdas dan mampu berdialog dengan hewan, bahkan kalangan jin tunduk dan patuh padanya. Apakah membuatnya sombong? Ternyata tidak, beliau selalu bersyukur dan dekat dengan Allah karena karunia itu," kata Arifin Ilham, dai, saat mengisi tausiyah Ramadan di kantor DPP Partai NasDem , Jakarta, Selasa 30 Mei 2017.

Acara tersebut dihadiri Ketua Umum DPP NasDem Surya Paloh dan jajaran pengurus NasDem serta ratusan anak yatim yang mendapat santunan.

Arifin Ilham, mengutarakan Nabi Sulaiman justru mempunyai doa yang amat baik yang membuatnya konsisten menjadi hamba yang bersyukur. "Ya Allah semakin Engkau kayakan aku, semakin Engkau beri kekuasaan aku, semakin syukur sujudku kepada Mu,” ujar Arifin menirukan doa Nabi Sulaiman.

Menurut Arifin, tauladan Nabi Sulaiman dalam kehidupan keseharian mencerminkan sosok penguasa dan konglomerat yang rendah hati, yang menganggap karunia Allah untuk menjadikannya hamba Allah yang bersyukur, bukan sebaliknya, menjadi hamba yang kufur. “Nikmat Allah itu menjadi ujian untuk bersyukur atau kufur,” tandasnya.

Pemimpin Pondok Pesantren Azzikra, Sentul, Bogor, ini mencontohkan dalam kehidupan dunia kehidupan yang penuh berkah dan fadilah serta istidraj. Mereka yang hidupnya berkah ketika diberi kekayaan, kekuasaan, dan popularitas akan terus membuat dirinya bertambah dekat dengan Allah yang diimplementasikan kehidupannya memberi manfaat bagi orang lain dan sesama.

Namun sebaliknya, mereka yang hidupnya dalam keadaan istidraj makin kaya, makin kuasa, dan makin populer bertambah maksiat nya, menzalimi orang. “Mereka ini yang mendapat istidraj justru hidupnya sukses di dunia dengan menyandang kekayaan dan kekuasaan serta popularitas,” cetus Arifin.

Ia mengingatkan dalam Alquran Surat Hud Ayat 15 dan 16, Allah SWT telah memperingatkan para hambanya yang mencari dunia dengan segala keindahan dan kesenanganya serta menghalalkan segala cara, tidak peduli syariat Allah, mereka akan mendapat balasan setimpal, tidak akan merasakah kebahagian di akhirat.

“Semua yang diinginkan kesenangan dunia itu Allah izinkan, mereka sukses berbuat maksiat, sukses berbuat zalim. Akan tetapi di akhirat nanti mereka tidak akan mendapatkan secuil kenikmatan. Bahkan diri mereka menjadi bahan bakar azab siksanya. Naudzubilah."

Ia melanjutkan, sejatinya hidup manusia di dunia hanya sementara, ketimbang kehidupan di akhirat yang berabad abad dan abadi. Arifin mengungkapkan godaan hidup di dunia yang kerap terjebak hanya pada rutinitas kebutuhan makan, minum, dan sex, yang ia istilahkan kebutuhan perut di atas perut. Kebutuhan perut merupakan ekspresi materialisme dan kebutuhan di atas perut ekpresi hedonisme yang kini menjadi agama bagi kebanyakan.

“Lalu apakah hidup kita hanya sebatas memenuhi kebutuhan ini saja. Karena itu, Allah mewajibkan umat melaksanakan ibadah puasa demi kebaikan manusia. Jadi puasa itu merupakan rahmat dan kasih sayang Allah kepada kita semua untuk mampu mengendalikan nafsu yang Allah berikan pada kita,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Arifin mengapresiasi peluncuran Alquran digital oleh Partai NasDem yang diharapkan lebih menyemarakkan gerakan dakwah yang memberi manfaat bagi masyarakat luas khususnya umat Islam untuk mempelajari, membaca, dan mengkaji, serta mengamalkan perintah Allah dalam Alquran.


Grafis: MTVN


(TRK)