Umar ibn Abdul Aziz, Khalifah Penolak Kendaraan Dinas

Sobih AW Adnan    •    02 Juli 2016 04:55 WIB
kisah ramadan
Umar ibn Abdul Aziz, Khalifah Penolak Kendaraan Dinas
Ilustrasi/Pixabay

Metrotvnews.com, Jakarta: Dinasti Umayyah berdiri kokoh, bergelimang kemewahan. Islam telah begitu kuat dan terus meluas. Namun di sisi lain,  beberapa khalifah dan keluarga kerajaan dianggap lalai karena hidup tanpa menganut prinsip kesederhanaan. Tak ada lagi semangat kepemimpinan Islam masa Rasulullah Muhammad SAW, serta keempat sahabatnya yang dikenal penuh adil, hingga berjuluk khulafau al-rasyidin.

Baru pada kepemimpinan Sulaiman ibn Abdul Malik kondisi sedikit berubah. Khalifah yang hanya sempat memerintah dua tahun ini memiliki sikap terbuka terhadap kritik yang berdatangan. Termasuk, dari sepupunya sendiri yang senantiasa mendampingi agar tetap menapaki jalan keadilan. Ialah Umar ibn Abdul Aziz, cicit khalifah Umar ibn Khattab ini sejak lama melancarkan kritik keras atas kelalaian keluarga khalifah. Hingga pada saatnya Sulaiman meninggal, ia ditunjuk menjadi penggantinya. 

"Bangunlah, wahai Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini," teriak Ibn Haiwah, ketika membaca wasiat Sulaiman di hadapan khalayak.

Mendengar pengumuman resmi dari lingkungan kerajaan, Umar bangkit dari sela-sela penduduk yang hadir. Ia menolak dengan berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dan tanpa pernah aku memintanya. Sesungguhnya aku mencabut baiat yang ada di lehermu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki."

Namun ternyata pilihan mendiang Sulaiman tak salah. Rakyat pun tampaknya sepakat dan cocok atas sikap Umar selama ini. Akhirnya dengan berat hati Umar menerima. Diiringi tangis karena takut kepada Allah SWT, ia berkata, "Taatlah kamu kepadaku selama aku taat kepada Allah. Jika aku durhaka kepadaNya, maka tidak ada keharusan bagimu untuk taat kepadaku."

Sesudah disambut riuh gembira penduduk Muslim, Umar pulang ke rumah. Setelah tiba, ia terus berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa menegakkan keadilan di bawah panji agama Islam. Tak terasa, karena kelelahan yang sangat, akhirnya ia tertidur pulas.

"Apakah yang sedang engkau pikirkan, wahai Amir Al-Mukminin?" tanya salah satu putranya yang baru berusia lima belas tahun. Ia merasa asing saat melihat sang ayah yang terbangun dalam lamunan.

Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu. Tidak pernah kurasakan keletihan seperti ini."

"Jadi apa yang akan ayah lakukan?" tanya putranya kembali.

"Ayah ingin meneruskan tidur sejenak, setelah itu keluar untuk mendirikan salat Zuhur bersama rakyat," jawab Umar.

Keesokan harinya, Umar memenuhi kewajiban untuk berpidato di muka umum. Dalam khotbahnya itu ia berkata, "Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad SAW dan tiada kitab selepas Alquran. Aku bukan penentu hukum, justru akulah pelaksana hukum Allah SWT. Aku bukan orang yang paling baik di antara kalian, aku hanyalah orang yang paling berat tanggungannya. Aku mengucapkan ucapan ini, sementara aku tahu, aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah."

Umar menghentikan pidatonya sejenak, ia menunduk dan menangis, lantas melanjutkan, "Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku."

Penduduk Muslim saling tatap dan bermenung. Mereka merasa diseret dari kebiasaan yang dilakukan orang-orang besar sebelumnya. Tak ada pesta ria. Tak ada janji manis dan rasa berbangga, selain tangis yang terus disajikan Umar, khalifah barunya.

Sebagai pejabat khalifah, akhirnya protokoler kerajaan mulai mengurusi berbagai keperluan pemimpinnya itu. Mereka segera menyediakan unta-unta yang gagah dengan pelana mewah sekaligus para kusirnya. Fasilitas ini biasa digunakan seorang khalifah. Tapi mereka merasa kaget bukan kepalang, ketika sang khalifah dengan raut merah padam berkata, "Aku tidak membutuhkannya. Jauhkan ini semua dariku. Tolong, bawa kemari keledai milikku."

Lebih tersentak lagi di saat Umar justru memerintahkan para petugas untuk segera menjual segala aset pribadi khalifah yang difasilitasi negara. Uang hasil penjualan itu, ia masukkan ke bait al-maal, lantas diterbitkanlah beragam kebijakan yang menyasar langsung kepada kaum duafa.

Sementara dirinya yang menjabat khalifah, Umar hanya minta dibayar 400 dinar selama setahun. Tanah dan kekayaan yang ia miliki pun ditinggalkan. Bahkan cincin yang ada di tangannya ia serahkan demi kepentingan negara, katanya, "Ini termasuk pemberian khalifah Walid bin Abdul Malik yang tidak dibenarkan."

Sumber: Disarikan dari Siyar Alamin Nubala, karangan Imam Adz-Dzahabi.


(SBH)