Ramalan Nabi Ihwal Kemunculan Kaum Radikal

Sobih AW Adnan    •    06 Juni 2018 03:00 WIB
radikalisme
Ramalan Nabi Ihwal Kemunculan Kaum Radikal
Ilustrasi: Radikalisme/Medcom.id/M. Rizal.

Jakarta: Usai memenangkan sebuah pertempuran di Yaman, Ali ibn Abi Thalib mengirimkan kepada Rasulullah Muhammad saw. berupa sepotong emas dalam kulit yang disamak. Harta rampasan perang yang belum dibersihkan dari kotorannya itu kemudian dibagikan kepada empat orang.

Nabi, memilih Uyainah ibn Badr, Aqra' ibn Habis, Zaid Al Khail dan Alqamah alias 'Amir ibn At Thufail sebagai orang-orang yang layak menerima bagian.

Ketika proses pembagian belum rampung, tiba-tiba sekelompok orang berani bilang, "Kami lebih berhak dibanding mereka!"

Mendengar ucapan itu, tentu, Nabi tak tinggal diam. Beliau bersabda;

"Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Padahal aku adalah kepercayaan Zat yang ada di langit. Wahyu turun kepadaku dari langit di waktu pagi dan sore."

Tak lama setelah Nabi menjelaskan, muncul seseorang bernama Zul Khuwaishirah dari Bani Tamim. Pria dengan mata cekung, pipi atas menonjol, berjenggot lebat, berkepala botak, dan mengenakan sarung yang tinggi tergulung itu berkata lancang;

"Takutlah kepada Allah, wahai Rasulullah!"

Rasulullah pun langsung menimpalinya, "Celaka engkau! Bukankah aku manusia yang paling takut kepada Allah?"

Mendapati Nabi marah, Khuwaishirah tak acuh meninggalkan para sahabat.

"Wahai Rasulullah, bolehkah aku penggal kepalanya?" tawar Khalid ibn Walid yang merasa terhina dengan ketidaksopanan Khuwaishirah.

Nabi, tak menghendaki tindak kekerasan. Kepada Khalid beliau meredam, "Jangan, dia masih salat (seorang muslim)."

"Berapa banyak orang yang salat dan bersahadat, tapi isi hatinya sangat bertentangan?"

Mendengar keluhan Khalid, Rasulullah bersabda, "Aku tidak diperintah untuk meneliti isi hati manusia, dan membelah dada mereka."

Nabi masih melihat langkah Khuwaishirah dari kejauhan. Kemudian kepada para sahabat beliau berpesan;


"Sesungguhnya akan muncul dari keturunan orang ini, suatu kaum yang mereka membaca Alquran namun tidak melampaui tenggorokan (Memahami agama tidak secara substansial dan mudah menyalahkan). Mereka melesat keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari sasarannya."


Sumber: Disarikan dari hadis yang diriwayatkan Al Bukhari Nomor 3344, 3610, 4351, 4667, 5058, 6163, 6931, 6933, 7432, 7562; dan Muslim Nomor 1064, 1065. Serta keterangan dalam Syarhus Sunnah karangan Imam Al Barbahari.


(SBH)