Merawat Tari Rodat

Ahmad Mustaqim    •    30 Mei 2017 20:45 WIB
ramadan 2017
Merawat Tari Rodat
Tari Rodat yang dilakukan menjelang buka puasa di Masjid Sulthoni Patok Negoro Yogyakarta. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sekitar 20 lelaki dewasa memegang kipas dan menari. Ada gerakan berdiri dan sesekali duduk bersimpuh. Dengan formasi dua barisan, gaya gerak yang dipentaskan cukup sederhana, lenggokan kepala ke kiri lalu ke kanan. 

Mereka tidak sendiri. Untuk menyelaraskan ritme, ada belasan orang lain yang memainkan rebana dan pengantar selawat. Kombinasi tarian, musik tradisional, serta selawat ini disebut Tari Rodat. Aksi ini bisa dijumpai setiap jelang buka puasa di serambi Masjid Sulthoni Patok Negoro, Plosokuning, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. 

"Tari Rodat berasal dari bahasa Arab, 'irodat' yang artinya kehendak. Ada juga yang mengartikan dari kata 'roudhah' atau tempat mulia," ujar Takmir Masjid Sulthoni Patok Negoro, M. Kamaludin Purnomo pada Senin, 29 Mei 2017. 

Kamaludin menjelaskan, Tari Rodat merupakan perpaduan Tari Saman dari Aceh dengan Tari Burdah dari Turki. Tari Rodat diklaim sudah ada sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I. Mulanya, tarian digunakan sebagai media dakwah dan syiar Islam. Dibuktikan dengan adanya nuansa zikir, selawat, dan doa di dalamnya. 


Tari Rodat yang dilakukan menjelang buka puasa di Masjid Sulthoni Patok Negoro Yogyakarta. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Pun pemakaian aksesori kipas. Menurut Kamaludin, kipas memiliki arti filosofis membersihkan pikiran manusia dari segala angan yang buruk.

"Bisa dilakukan dengan jumlah penari berapapun. Ada 19 jenis gerakan yang disesuaikan dengan puji-pujian syairnya, seperti as shalah, li khamsatun, dan tsanakhal," ujar dia.

Tak hanya ada saat Ramadan, Tari Rodat juga sering dipentaskan pada hari-hari besar, atau hajatan keluarga. Tari rodat dipercaya bisa menjadi sarana menolak bahaya, seperti gempa bumi dan bencana alam lain. 

"Di dalam tarian menyebut nama Nabi Muhammad, menantu, dan cucunya. Orang-orang yang dianggap punya perlindungan," katanya. 

Sayangnya, kepedulian melestarikan Tari Rodat kian surut. Hal itu terlihat dari para penari yang didominasi pria berusia 40 hingga 50 tahun ke atas. Menurut Kamaluddin, anak muda saat ini kurang tertarik untuk mempelajari Tari Rodat.

"Kami rencananya akan memadukan sejumlah tari kontemporer. Supaya anak muda mau dan tertarik dengan Tari Rodat," kata dia.


(SBH)