Masjid Tua tanpa Paku di Kerinci

Fendry Hasari    •    14 Juni 2017 04:34 WIB
ramadan 2017
Masjid Tua tanpa Paku di Kerinci
Masjid Agung Pondok Tinggi, Kota Sungaipenuh, Jambi/Metro TV/Fendry Hasari

Metrotvnews.com, Kerinci: Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu masjid tertua di Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi. Masjid ini dibangun pada 1 Juni tahun 1874. Uniknya, konstruksi bangunan tidak menggunakan paku atau bahan logam, melainkan cukup mengandalkan pasak.

Keunikan berikutnya terdapat pada bagian mimbar. Tempat seseorang mengumandangkan azan itu dibangun hingga setinggi 12 meter. Tujuannya, demi menghasilkan suara nyaring karena ia didirikan sebelum teknologi pengeras suara dikenal masyarakat. 

Khusus di hari Jumat, kumandang azan masih terdengar dari tempat yang cukup tinggi itu. Tapi dalam kegiatan salat di setiap hari, azan digemakan melalui pengeras suara. 

Pengurus Masjid Agung Pondok Tinggi Zulkarnain mengatakan, bangunan masjid tua ini didesain empat orang. Mereka dikenal dengan nama Haji Ridho, Haji Sidin, Haji Thalib, dan Haji Raji Saleh.

"Mereka ini merupakan tokoh adat warga Desa Pondok Tinggi," kata Zulkarnain.


Bagian dalam dan mimbar Masjid Agung Pondok Tinggi, Kota Sungaipenuh, Jambi/Metro TV/Fendry Hasari

Nyaris pada seluruh bagian masjid ditemukan bermacam ukiran dan hiasan. Semua tiang, alang, pintu, lubang pintu dan mimbar penuh dengan ukiran bercorak Islam dengan nuansa seni tradisional Kerinci.

Di dalam masjid ini terdapat dua buah beduk. Yang pertama berukuran besar dengan panjang 7,5 meter, serta beduk kecil berukuran 4,25 meter. Beduk yang besar dikenal dengan sebutan Tabuh Larangan.

"Tabuh larangan ini hanya dibunyikan jika terjadi bencana alam, seperti banjir, kebakaran, dan lain sebagainya. Sedangkan beduk kecil dibunyikan untuk salat lima waktu," kata dia.

Nama Masjid Pondok Tinggi diberikan Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta. Pemberian nama dilakukan saat melakukan lawatan ke Kerinci pada 1953.

"Saat itu Kota Sungaipenuh belum terpisah dari Kabupaten Kerinci. Malah ia menjadi ibu kota dan dikenal sebagai ikon wisata Provinsi Sumatera barat," kata dia.



(SBH)