Baca Al quran Daun Lontar Tradisi di Ponpes Al Multazam

Dhana Kencana    •    13 Juni 2016 16:49 WIB
ramadan
Baca Al quran Daun Lontar Tradisi di Ponpes Al Multazam
Al quan daun lontar (Foto: MTVN/Dhana Kencana)

Metrotvnews.com, Semarang: Sejumlah santri Pondok Pesantren Al Multazam di Griya Payung Indah, Pudak Payung, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, punya kegiatan rutin menjelang buka puasa. Mereka membaca Al quran dari daun lontar.
 
Al quran lembaran daun lontar itu disimpan di perpustakaan pesantren. Para santri bergantian membaca Al quran daun lontar sebagai penyemangat saat menjalankan puasa.
 
"Sambil menunggu berbuka puasa, rutin saya mengaji bersama santri, agar dapat menghayati makna ayat suci yang terkandung di dalamnya,” kata Pengasuh Ponpes Al Multazam KH Khamammi di Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/6/2016).
 
Al quran dari daun lontar itu merupakan peninggalan wali Allah asal Sumenep, Sayyid Abdurrahman. Seperti Al quran lainnya, ada 30 juz ditulis di atas daun lontar setebal 22 lembar itu. Di atas lontar selebar 1,5 meter juga dapat dilihat dengan jelas guratan-guratan ayat suci tanpa harakat dengan untaian kaligrafi yang indah.
 
KH Khamammi takjub dengan daun lontar yang bertuliskan ayat suci Al quran. Sebab, lontar yang sudah berusia lebih dari dua abad ini tidak pernah rusak meskipun hanya direkatkan dengan seutas benang.
 
"Aroma daun lontar masih harum semerbak, layaknya daun yang baru dipetik. Padahal usianya sudah lebih dari 200 tahun,” imbuh dia.
 
Keberadaan Al quran daun lontar menjadi bukti mukjizat Allah SWT benar-benar nyata dan luar biasa. Hanya memakai pelepah lontar dan sebatang lidi, Sayyid Abdurrahman mampu menuliskan ayat-ayat suci yang sangat rapi lengkap dengan kaligrafi. Sayyid Abdurrahman sendiri merupakan alim ulama yang memiliki ilmu agama setara dengan Wali Songo.
 
"Ini mukjizat yang luar biasa. Beliau memberikan kharomah pada ayat suci yang ditulis di atas lontar dan benda ini jadi pelajaran berharga bagi generasi muda," kata dia.
 
Setelah Sayyid Abdurrahman wafat, kitab suci itu diturunkan kepada anaknya, KH Tuju Langker lalu secara turun-temurun diberikan kepada KH Aziz Tapa, KH Tuju Panaungan, hingga KH Bunyamin Maimunah yang wafat pada 2014.
 
Al quran warisan Sayyid Abdurrahman itu akan disimpan dalam galeri museum pondok. Tepat pada 17 Ramadan saat Al quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
 
"Kita ingin melestarikan benda-benda peninggalan Wali Allah yang telah memperjuangkan agama Islam sejak zaman dahulu. Sehingga, pada masa mendatang anak-anak muda mampu mempelajari kehebatan kharomah para wali," kata dia.



(TTD)